Friday, 22 April 2022

Jangan Terlena "Kau Papua", Bangsamu Sedang Mati!

 

Oleh: Willy Sardi

Saya sebagai orang Melayu, yg lahir di Jakarta,  yg mempelajari ilmu-ilmu sosial dan belum lama tinggal di Papua ini sedang melihat kamu terlena tetapi sesungguhnya  kamu sedang mati, bangsa kamu akan segera tinggal cerita.  


Karena itu,  saya hanya mau memberitahukan tanda2 kematian masa depan anda secara pribadi dan bangsamu di masa depan.  Saya cukup beritahu dan anda sendirilah cari solusinya, apa solusi yg tepat atas kondisimu,  kondisi bangsamu. 


Berikut tanda-tanda kamu orang Papua dan bangsamu akan tinggal cerita segera: 


Pertama, kalian,  orang Papua kini punya satu musim baru. Musim yang tak banyak saya jumpai di Jawa, bahkan dalam buku sejarah.  Bukan hanya musim matoa,  musim kemarau atau musim mangga,  musim muntaber untuk anak-anak kalian. Tapi,  musim baru kalian adalah musim kematian tiba-tiba. Hari-hari ini,  tidak hanya pimpinan gereja kalian saja yang mati tiba-tiba tetapi lihatlah di sekeliling anda,  banyak orang Papua mati tiba-tiba.  


Tidak ada yang tahu pasti penyebab musim baru itu.  Mereka mati misterius. 


Kedua,  ini lanjutan dari yang nomor satu di atas.  Kalian orang Papua kini punya satu penyakit baru yang belum banyak dijumpai di dunia kedokteran modern.  Penyakit itu ialah penyakit "jatuh". Para pemimpin gereja kalian mati karena penyakit "jatuh". Ini penyakit berbahaya. 

 

Coba kalian,  orang Papua renungkan,  Pastor Nato Gobay, jatuh tiba-tiba di kamar mandi dan meninggal. Itu setelah 30 menit sebelumnya memimpin ibadah di salah satu gereja katolik di Nabire sana. 


Pastor Yulianus Mote, dikabarkan jatuh pingsang tiba-tiba di bandar udara wamena saat berangkat dari Jayapura ke Wamena. Ia berobat ttp tdk tertolong dan meninggal. 


Pastor Neles Tebay jatuh tiba-tiba di ruang kuliah di salah satu kampus calon imam di Jayapura. Ia berobat dan tdk tertolong dan kemudian meninggal.


Kemudian, Uskup Timika,  Mgr. John Philip Saklil jatuh di halaman rumah uskup dan meningal. Ia meninggal setelah sebelumnya memimpin misa.  


Kalian,  orang Papua tahu bahwa mereka jatuh karena mereka ini pimpinan umat dan informasinya disebarkan. Coba cari tahu dan hitung sekeling anda,  berapa orang lain lagi yang mati dengan model ini.  Banyak.  


Ketiga, para pimpinan kalian mati misterius. Dalam sejarah yang saya pelajari, kematian pemimpin adalah pukulan telak,  ia adalah kematian sebuah komunitas,  kematian bangsa. Kematian pemimpin adalah duka panjang, bukan karena semata2 kehilangan fisik tetapi ia membawa pergi ide,  gagasan,  semangat, dan visi. 


Mereka yang meninggal saat2 ini adalah pemimpin gereja. Banyak pemimpin kalian di birokrasi dan politik juga mati misterius, ada yang pelan2, ada yang mati seketika.  Kalian tahu,  Arnold Ap,  Theys,  Gubernur Salosa, Wospakrik,  Agus Alua,  dan anda pasti tahu yang lain. Yang wajar adalah meninggal normal karena sakit atau sudah umur tua.  


Anda pasti tahu yg mati berlumuran darah, pasti banyak.  Ini yg misterius.. 


Keempat, kalian banyak doktor dan master. Sarjana berlimpah. Ada tamatan luar negeri,  ada tamatan dalam negeri dan ada yg tamat di tengah realitas yang membunuh kalian di Papua.  


Tp,  kalian diam atas masalah2 bangsamu yang sudah stadium empat ini,  jika itu adalah penyakit.. 


Gelar kalian hanya di atas kertas,  tak bisa buat apa2 untuk tanah airmu. Anda hanya urus perutmu,  anda hanya urus jabatanmu,  anda terhanyut dalam rutinitasmu dan tepuk dada, bangga dgn gelarmu.  


Anda tidak menulis, anda tidak buat kajian,  anda tidak berjuang, anda jijik berada di jalanan untuk melawan,  anda tidak menjadi diplomat,  anda tidak urus tanah adatmu,  anda tidak mendidik kaummu. 


Itu artinya,  anda memang ingin membiarkan bangsmu mati atau gelarmu hanya di atas kertas dan tidak belajar sungguh2 untk mengerti realitasmu.  


Apakah anda sengaja ataupun tidak paham, yang jelas, saya mau memberitahu bahwa,  ketika orang sekolah (doktor,  master,  dan sarjana) diam membisu maka itu tandanya bangsa itu sedang mati pelan-pelan.  Matinya aktivitas intelektual adalah matinya sebuah bangsa.  


Kelima, orang Papua lupa budaya. Budaya bukan sekedar pakaian adat,  tapi keseluruhan tatanan  kehidupan: religi, sistem politik,  mata pencaharian,  kesenian,  peralatan,  bahasa,  sistem dan pengetahuan. 


Kalian gemgang erat2 segala yang baru datang.  Lalu,  kalian lupa diri dan terlena dan mereka ambil apa yang kalian tinggalkan.


Jangankan budaya,  anda tinggalkan mamamu sendiri,  anda pergi kawin dengan yang putih. Yang putih dan semua yang datang dari luar lebih baik.  Itu cara anda membunuh mamamu,  budayamu dan masa depan bangsamu secara pelan tapi pasti. 


Keenam, kalian pemalas dan hidup dari belas kasihan dan judi.  Kalian, orang Papua itu saya amati pemalas,  duduk saja,  cerita-cerita saja,  habiskan waktu. Jalan minta sana minta sini sama saudara lain, harap sana harap sini. Setelah dapat uang habiskan saat itu juga,  sisanya main judi,  togel. Uang habis jalan minta  lg ke saudara padahal sudah sarjana, padahal sehat dan badan kuat,  padahal hutanmu luas, tanahmu subur.  


Satu pemuda bisa habiskan uang 3 atau 4 juta dalam satu bulan. Uang itu dapat dari mana, sedangkan ia tidak punya pekerjaan,  tidak punya kebun,  tidak punya ternak? Jawabannya adalah ia dapat dari belas kasihan orang lain dan judi. 


Saya ketemu dua pemuda di Kantor Gubernur. Tas mereka berisi. Saya ajak cerita, apa yang mereka isi dan apa kerja mereka.  Yang mereka isi adalah proposal dan buku togel. Mereka begitu polos,  saya amati mereka keliling jual2 proposal dari satu ruangan ke ruangan lain di kantor gubernur. Mereka tidak bekerja, satu orang sarjana dan satunya lagi pemuda.  


Satu kesempatan,  saya dengan beberapa teman kami kerja borongan di tanah Hitam. Kami pendatang dua orang dan mereka anak Papua tiga orang. Kami dibayar masing2 orang Rp. 4.700.000. Satu minggu kemudian,  saya tanya, masih adakah yang itu?  Uang mereka sudah habis.  Satu orang beralasan,  uang itu bayar spp adiknya. Satu lagi,  bagi-bagi dengan keluarga.  Satu lagi yang parah,  ia mengesal karena uang itu habis minum dan main togel. 


Tidak banyak orang Papua yang saya jumpai hargai proses dan tekun serta hemat. Sebagian hanya mau cepat jadi dan kejar yang besar,  tidak ada usaha2 kecil,  kecuali mama2 yang jualan. Anak muda takut jualan,  jaga gengsi,  jalan rapi2 tapi dompet kosong. 


Ketujuh, perempuan muda Papua hancur.  Sore-sore,  apalagi malam minggu kota Jayapura penuh gadis2 belia Papua bercelana mini. Mulut penuh pinang dan rokok di tangan.  


Mereka berkelompok hingga larut malam. Mereka buat apa?  Mereka menunggu bookingan dari siapa saja yg mau ajak jalan,  sekedar minuman keras atau seks dengan bayar murah.  Yang penting dapat uang,  entah 100 rb. Ada yang anak sekolh dan ada yg sdh tdk sekolah. Saya ajak ngobrol,  mereka cerita d rumah tdk ada makanan dan cari uang sekolah.  


Jika perempuan hancur,  bagaimana mereka akan menikah,  mengandung, melahirkan anak yg sehat dan mendidiknya menjadi besar untuk gantikan pemimpin kalian yg sudah banyak mati.  Bagaimana mereka akan urus suami jika sdh hancur begini.  Perempuan kuat, bangsa kuat.


Kedelapan,  orang tua malas tahu dgn pendidikan anak. Tidak ada budaya belajar di rumah. Beberapa rumah di teman2 Papua tdk ada meja belajar untuk anak mereka.  Satu kamar, anaknya dengan dua tiga orang tamu dr saudara lain. Sore hari anak2 tdk ada kebiasaan belajar di beberapa rumah yang saya kunjungi.  Makan mlm larut malam sekali,  ada yang jam 9,  anak yg paling kecil sdh tdr. Ayah dan ibu,  punya urusan masing2, tdk dampingi anak belajar.  


Pada pagi hari,  saya perhatikan di jalanan,  tidak banyak orang Papua yg antar anak ke sekolah. Padahal di rumah ada mobil dan motor.  Ada satu pejabat punya mobil dua dan motor ada satu di rumah tp pgi hari dia bagi uang sama anaknya.  Dia tdk antar, anak jalan sendiri,  naik ojek. Ini bukan soal kasih uang tp ini soal bagaimana bentuk kasih sayang orang tua. Pendatang juga punya uang tp mereka antar anak mereka, lihat di lampu merah pagi hari.  Bicara tuan tanah tp tidak urus pendidikan anak baik2, bagaimana mau jd tuan rumah. 


Kesembilan,  kakak saya kenal banyak orang Papua yang menyebut diri pengusaha tapi setelah saya tanya pengusaha itu artinya punya CV dan PT. Mereka jalan cari proyek di dinas2, setelah dapat, kerja selesai dan uang habis.  Tdk ada yang buat unit usaha yang profit atau datangkan uang. Ini beda dgn pendatang.  


Kesepuluh, jual tanah. Orang Papua jual tanah kepada kami. Kalian tdk kontrakkan. Padahal kalian punya anak banyak.  Anak2 kamu akan ke manakan kalau sdh kami kuasai semua.  


Kesebelas,  sekolah pinggiran dan kampus dan jurusan yang bisa cepat jadi sarjana. Tidak banyak anak2 Papua yg masuk di sekolah bermutu. Anak2 Papua banyak saya jumpai di sekolah2 pinggiran, sekolah yg dpat nilai gampangan dan masuk diperguruan tinggi yg biasa2 pada jurusan2 sosial semua.  Jadi,  orientasi mencari nilai dan ijazah,  tidak cari kemampuan otak dan keterampikan untuk hidup kalian. 


Keduabelas,  kampus2 sepi dengan mimbar akademik. Tdk banyak kampus di Papua yg lakukan seminar2 atau aktivitas lain.  Para dosen juga tdk banyak yg menulis karya ilmiah yang terkait dgn bidang ilmu atas kondisi rill di Papua.  


Ketigabelas,  ruang ekspresi disumbat.  Saya lihat hal berbeda di Papua dgn di Jawa. Di sini,  orang tdk boleh demo,  langsung ditangkap atau dibubarkan dititik aksi. 


Ketigabelas,  saya tidak jumpa wartawan luar negeri di Papua.  Media2 di Papua saya tidak temukan bikin liputan yang berkualitas.  Saya menyebut majalah dinding sekolah/pemerintah.  


Keempatbelas,  yang jual ikan kebanyakan bukan orang Papua,  yg jual hasil kebun kebanyakan bukan orang Papua, yang tambang rakyat jg bukan orang Papua,  yang jual pinang juga sekarang bukan orang Papua,  apalagi kios atau toko.  


Kelimabelas,  petinggi Papua di Jayapura kebanyakan hanya bicara2 saja di media,  tidak banyak aksi nyata.  Tidak ada kepercayaan diri juga padahal papua itu kaya dan punya posisi tawar dgn Jakarta yg sangat tinggi. 


Keenambelas,  birokrasi dan parlemen sdh dikuasai oleh kami.  


Ketujuhbelas,  orang Papua terlalu dewakan kami pendatang. Dewa jadi diberi apa pun,  harga dirinya pun kalian berikan, kamu  beri marga dan  angkat jadikan kepala suku,  nobatkan jd anak anaklah. Lalu,  di mana posisi kalian orang Papua di sana.  Kalian itu sebenarnya sedang bimbang. 


Kedelapan belas,  kalian orang Papua itu mudah dibeli dan tidak bisa bersatu dan mudah diprovokasi,  mudah dikotak2an dengan istilah gunung dan pantai sehingga kalian terhanyut dalam adu domba,  lupa daratan tanah besar Papua bahwa kalian adalah tuan tanah.  


Kesembilan belas,  kalian panas-panas tai ayam dan makan mentah ajaran kasih. Tuhan musnahkan musuh Israel di laut merah.  


Kalian tambah2 sendiri.  Ada banyak tanda kalian ini sesungguhnya akan segera tiada.  Pikirkan dan renungkanlah sodara.  


Dari sodara kalian,  Willy Sardi Jayapura.

Tuesday, 12 April 2022

TIDAK PUAS AKAN MENCARI SESUATU

 

Dok di Warkop 

Orang Genius  Mereka Tidak Pedudi Dengan Masalah Apapun Yang Mereka Alami Asalkan Apa-Adanya Mereka Selaluh Focus Pada Tujuan Yang Mereka Menekunkan Untuk Mencapai Mimpi Yang Mereka Belum Perna Bayangkan.

Orang genius adalah orang-orang yang tidak perna merasakan cukup dan tidak perna merasakan saya ini “palin tahu” dari antara orang-orang yang ada sekitarnya; mereka selaluh mencari dan mencobah setiap saat, baik  waktu tidak mendukun secara financial maupun malah lainnya. Dan mereka adalah orang yang selaluh mencari pengetahuan baru (hasrat) yang tinggi, dalam hal ini dunia pendidikan mapun perjuangan lain; mereka adalah selaluh membenahi masalah apapun yang mereka hadapi.

Orang jenius selaluh muncul seperti 2 (dua) pertanyaan besar ini kepada diri bahwa “1. who I am?, 2. I’m not enough?” (who I am) adalah mereka secara sadar bahwa mereka Tanya pekada diri; karna mereka buka gila tetapi mereka Tanya kepada diri mereka dan Tanya kepada sekitar mereka, karna mereka ada dan dunia mereka ada itu apaka takdir saja atau sesuatu yang menopan dibalik itu. Dan mereka jenius dalam hal kecil apapun. (I am not enough) adalah mereka yang tidak puas akan mencari sesuatu karna sesuatu yang kita serap oleh 5 panca indra manusia ini bukan begitu saja, tetapi dibalik semua itu ada yang sumber utamanya.

Itu adalah cara berfikir dan perilaku orang jenius

 

SALAM LITERASI

 

LOVE BOPINI

 

 

 

 

 


Hosea dan Cinta Penebus: Kisah Dibalik Kesetiaan

 



Berdasarkan novel laris karya Francine Rivers, 

REDEEMING LOVE adalah kisah cinta dan ketekunan yang kuat saat hubungan pasangan muda berbenturan dengan kenyataan pahit Demam Emas California tahun 1850. Kisah ini terinspirasi oleh Kitab Hosea, dan pusatnya Temanya adalah kasih penebusan Allah terhadap orang berdosa. Cerita berpusat pada Angel (Abigail Cowen), yang dijual ke prostitusi sebagai seorang anak. Dia telah bertahan melalui kebencian dan kebencian diri, sampai dia bertemu Michael Hosea (Tom Lewis) dan menemukan tidak ada kehancuran yang tidak bisa disembuhkan oleh cinta. Kisah ini mencerminkan kekuatan penebusan cinta tanpa syarat dan pengorbanan dengan karakter dan keadaan yang relevan dengan dunia kontemporer.

Bagaimana Hosea mirip dengan cerita fiksi dalam film ini?

Latar Belakang Hosea

Kisah Alkitab Hosea terjadi sebelum Suku Utara Israel ditawan. Allah memilih untuk mengasihi Israel. Dia membuat janji-janji perjanjian kepada mereka dalam perjanjian-perjanjian awal Perjanjian Lama. Meskipun di seluruh Perjanjian Lama Israel sering berputar bolak-balik antara kesetiaan dan ketidaksetiaan kepada Tuhan, Tuhan tidak pernah mengabaikannya. Kesetiaan Tuhan yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah lelah kepada Israel dikenal dalam Perjanjian Lama sebagai hesed-Nya. Kata ini mengacu pada kesetiaan perjanjian Allah.

Suku Utara Israel memilih untuk tidak setia kepada Tuhan. Seperti yang mereka lakukan, Tuhan menggunakan para nabi untuk memanggil mereka kembali kepada pertobatan. Sebagai seorang nabi, Hosea melayani Suku Utara bersama nabi Amos, serta sezaman dengan Yesaya. Tujuan Hosea adalah untuk memanggil Israel kembali kepada pertobatan dan hidup setia bersama Tuhan.

Tuhan berkata kepada Israel:

“Aku akan menjodohkanmu dengan-Ku selamanya;

Ya, Aku akan menjodohkanmu dengan-Ku

Dalam kebenaran dan keadilan,

Dalam cinta kasih [hesed] dan belas kasihan;

Aku akan menjodohkanmu dengan-Ku dalam kesetiaan,

Dan kamu akan mengenal Tuhan. (Hosea 2:19-20)

Saat memanggil Israel kembali kepada Tuhan, Hosea membagikan dorongan dari Tuhan kepada mereka:

Taburlah untuk dirimu sendiri kebenaran;

Menuai dalam belas kasihan; [hesed]

Hancurkan tanah kosong Anda,

Karena sudah waktunya untuk mencari Tuhan,

Sampai Dia datang dan menghujanimu dengan kebenaran. (Hosea 10:12)

Allah mengundang Israel untuk bertobat. Dia mengundangnya untuk kembali kepada-Nya. Dia menjelaskan bahwa dia akan menuai kesetiaan perjanjian-Nya. Atau, dengan kata lain, dia akan mengalami kasih perjanjian-Nya.

Hosea, Gomer, Pelacuran, Cinta, dan Kesetiaan

Sebagai gambaran hidup dari kesetiaan perjanjian Tuhan kepada Israel, Tuhan menyuruh Hosea untuk menikahi Gomer, seorang pelacur.

“Pergi, ambil sendiri istri pelacur

Dan anak-anak pelacur,

Karena negeri itu telah melakukan pelacuran besar

Dengan meninggalkan Tuhan.” (Hosea 1:3).

Hosea menikah dengan Gomer. Mereka memiliki tiga anak (laki-laki) bersama.

Gomer meninggalkan Hosea. Dia kembali ke prostitusi.

Tuhan menyuruh Hosea untuk mengejarnya lagi. Bahkan, dia membelinya kembali dari prostitusi. Perhatikan apa yang Hosea tulis:

Kemudian Tuhan berkata kepadaku, “Pergilah lagi, cintailah seorang wanita yang dicintai oleh seorang kekasih dan berzinah, seperti cinta Tuhan kepada anak-anak Israel, yang memandang kepada allah lain dan menyukai kue kismis dari kafir.”

Jadi aku membelinya untuk diriku sendiri seharga lima belas syikal perak, dan satu setengah homer jelai. Dan saya berkata kepadanya, “Kamu akan tinggal bersamaku selama beberapa hari; kamu tidak akan berperan sebagai pelacur, kamu juga tidak akan memiliki seorang pria — demikian juga, aku akan mendekatimu.” (Hosea 3:1-3)

Hosea membelikannya dengan perak dan jelai. Dia membawanya masuk dan berkomitmen untuk mencintainya dengan setia selama beberapa hari seperti yang akan dia lakukan untuknya.

Gambaran indah dari kasih penebusan Hosea ini menggambarkan kasih penebusan Allah, kesetiaan perjanjian-Nya. Hosea melanjutkan:

Karena anak-anak Israel akan tinggal berhari-hari tanpa raja atau pangeran, tanpa pengorbanan atau pilar suci, tanpa efod atau terafim. Setelah itu orang Israel akan kembali dan mencari Tuhan Allah mereka dan Daud raja mereka. Mereka akan takut akan Tuhan dan kebaikan-Nya di akhir zaman. (Hosea 3:4-5)

Sama seperti Hosea mengambil kembali Gomer, Tuhan berjanji untuk mengambil kembali Israel juga. Untuk menjamin hal ini, pada akhirnya Yesus membayar dengan tubuh dan darah-Nya saat Dia mati di kayu salib untuk menjamin pengampunan orang berdosa dengan cinta penebusan.

Hosea adalah gambaran Allah yang setia pada perjanjian melalui Yesus Kristus.

Komitmen Hosea pada perjanjian pernikahannya menunjukkan kesetiaan Allah pada perjanjian-Nya dengan Israel. Lebih besar dari sekedar perjanjian-Nya dengan Israel, sebagai bagian dari karakter-Nya, Tuhan hanya setia pada perjanjian.

Ini adalah berita bagus bagi kami. Izinkan saya menyarankan tiga implikasi:

Pertama, Tuhan tidak pernah melanggar perjanjian.

Kasih Tuhan tidak pernah berakhir. Bahkan ketika Anda tidak setia kepada Tuhan, Dia tidak pernah tidak setia kepada Anda. Sebagaimana dibuktikan dalam cinta dan komitmen Hosea untuk Gomer dan cinta Tuhan untuk Israel, Tuhan tidak melanggar perjanjian. Elemen penting dari kasih Allah adalah kesetiaan perjanjian-Nya. Tuhan berjanji untuk membawa mereka yang memiliki hubungan pribadi dengan-Nya ke surga karena kasih-Nya tidak pernah gagal.


Tuesday, 5 April 2022

HALO MAHASISWA PAPUA

 

Oleh: Oskar H.Gie

Banyak Mahasiswa Papua yang kuliah, katanya biar jadi manusia dan membangun masa depan tanah Papua.

Tetapi nyatanya tanah Papua masih di jajah oleh sistem

Kapitalis dan dusta Kolonialis, serta kekerasan manusia oleh pendekatan aparat TNI/POLRI.

Banyak Mahasiswa Papua yang kuliah, tapi buta poltik. Banyak Mahasiswa Papua yang kuliah, tapi bahas persatuan saja malah masih terjebak dengan isme-isme

Pangguyuban hanya karna administrasi dana beasiswa atau bantuan pendidikan dari OTSUS kabupaten.

Banyak Mahasiswa Papua yang kuliah, tapi hanya mau jadi PNS, Pejabat Daerah, dan penjilat penguasa. Karna kuliah tapi tidak merdeka secara ideologl, jadi masih ditindas mental penjajah.

Banyak Mahasiswa Papua yang kuliah, tapi ujung-ujungnya jadi pengangguran karena tidak punya skill dan tidak

ada lapangan pekerjaan dari pemerintah Papua untuk Orang AsI Papua. Apa lagi setiap sektoral ekonomi dan

politik malah dikuasai oleh orang non Papua.

Banyak Mahasiswa Papua yang kuliah, tapi hanya sibuk urus pacar, jalan-jalan, dan ada yang kaku idealismenya

karena terjebak organisasi-organisasi yang jauh dari realita orang Papua itu sendiri.

Jadi Mahasiswa Papua yang kuliah, harus sadar bahwa

kuliah di negeri ini bukan sekedar belajar demi kemajuan dan masa depan Tanah Papua. Tapi harus sadar kalau kita masih di JAJAH oleh Penindasan Kapitalisme, Kolonialisme dan Militerisme.

Halo Mahasiswa Papua, mari sadar, BANYAK MEMBACA, banyak diskusi, dan Aksi sesuai tuntunan ideologi Pembebasan bagi masa depan Manusia dan Tanah Papua.


 Oskar H. Gie

Baku Kastau

Monday, 28 March 2022

Menuangkan dan Meninggalkan Kekhawatiran dan Stres Kita di Kaki Tuhan

Pakailah Aku Tuhan dalam Kehidupan Yang sangat Mengkahwatirkan ini!

 “Kasih karunia” adalah Firman saya untuk tahun 2022. Dan sungguh, kasih karunia Tuhan begitu murah hati dan gratis dan masih ada. Ketika saya melewati lembah yang gelap, saya mengalami kesulitan melihat cahaya di ujung terowongan, tetapi Tuhan masih dengan murah hati membawa saya melewatinya. Di belakang, saya sekarang dapat membayangkan Dia memegang tangan saya dan memimpin saya atau membawa saya, bahkan ketika saya tidak memiliki kekuatan untuk mengangkat mata saya dan fokus pada kasih dan kasih karunia-Nya.

Berfokus pada kedalaman makna dalam kata itu memang membantu saya untuk lebih membuka mata terhadap momen-momen anggun yang begitu mudah saya abaikan. Namun, tahun ini saya memutuskan untuk tidak fokus pada kata tertentu melainkan pada proses pemikiran yang diperbarui.

Dalam beberapa bulan terakhir, ketika saya mulai berpikir saya harus menyelesaikan ini atau itu, ketika saya cemas dan kewalahan dengan semua yang terjadi di dunia ini dan hati saya sakit untuk mereka yang terluka, saya mendengar Tuhan berbisik, “Istirahatlah, Anak saya." Saya merasa Dia memanggil saya untuk mengurangi tekanan pada diri saya sendiri. Untuk mengambil satu hari pada satu waktu, dan bahkan satu langkah pada satu waktu, dan untuk tetap fokus pada Yesus. Untuk berbaring dan beristirahat di dalam Dia dan kebaikan-Nya yang tidak berubah dan kasih-Nya yang tidak pernah gagal. Hanya untuk mengambil napas dalam-dalam, percaya pada-Nya, dan melakukan hal yang benar berikutnya. Untuk berhenti stres jika saya memposting lebih sedikit di sini, saya tidak dapat mengikuti hal-hal lain dalam hidup, atau tidak dapat mengubah situasi di luar kendali saya. Untuk sekadar “menjadi” siapa saya di dalam Kristus, menyerahkan semua kekhawatiran saya kepada-Nya, dan berusaha menjadi lebih seperti Dia dalam setiap pikiran, perkataan, dan tindakan saya.

Friday, 25 March 2022

NASIB ORANG PAPUA MATI DAN HIDUP DITENTUKAN OLEH JAKARTA BUKAN OLEH TUHAN

Jakarta Melihat Orang Papua sama dengan Binatang sehingga nasib masa depan orang Papua diatur dan ditentukan oleh manusia superior dari Jakarta. 

Hanya hewan atau ternak dalam kadang, ikan dalam aquarium nasibnya dan kehidupanya diatur oleh tuanya. Begitu pula saat ini nasib orang Papua sama, orang Papua di mata Indonesia hewan sehingga nasib masa depan ditentukan oleh Jakarta, berapa lama hidup, dan kapan orang Papua mati ada di tangan Jakarta. 

Mengapa kita harus menolak otonomi khusus dan pemakaranDOB di Papua karena Otonomi khusus dan DOB ancaman serius yang kita harus hadapi.

Kenapa pemakaran dipaksakan di Papua dan apa tujuan Resim Jokowi terus bernafsu memaksakan Otonomi khusus dan pemakaran Provinsi Baru jelas Investasi imperalis.

Jokowi ingin Indonesia menjadi negara kuat di Asia Tenggara atau macan Asia Pasifik harus diperhitungkan di dunia. Indonesia ingin menjadi negara maju keluar dari daftar negara berkembang di dunia. 

Saat ini Indonesia membangun mega proyek besar besaran di pulau jawa seperti Smelter di kersik, mega proyek lainnya agar 2050 target Indonesia negara super Power dan ingin keluar dari daftar negara berkembang menjadi negara maju. 

Jadi Pemaksaan pengesahan otonomi khusus nomor 2 tahun 2021 terkesan rasis kehendak Jakarta tanpa melibatkan orang asli Papua sebagai subjek. Karena ingin meloloskan kepentingan ekonomi nasional kepentingan oligarki imperalis.

Pemaksaan pengesahan otonomi khusus jilid II dan pemekaran DOB di Papua tidak jauh bedah dengan sejarah bangsa Papua demi kepentingan ekonomi kapitalisme Amerika. 

Pertama Perjanjian New York agreement 15 agustus 1962 dipaksakan tanpa melibatkan orang Papua. 

Perjanjian roma italia pada 30 september 1962 dilakukan tanpa melibatkan orang Papua. 

Penyerahan administrasi West Papua dari UNTEA ke Indonesia 1 mei 1963 tanpa sepegetahuan orang Papua. 

Perjanjian kontrak kerja PT Freeport Indonesia 7 april 1967 tanpa melibatkan orang Papua. 

Kemudian pelaksanaan penentuan pendapat rakyat ( PEPERA1969) tidak sesuai kesepakatan internasional 15 agustus 1962 karena ada kepentingan ekonomi imperalis Amerika. 

Hal yang sama sedang terjadi melalui Pemaksaan otonomi khusus jilid II dan realisasinya pemakaran Provinsi Baru mencapai legalitas hukum dan perizinan investasi di Papua. 

pemakaran Provinsi dan kabupaten kota hanya buka lapangan kerja bagi kaum migran dan buka akses serta legalitas hukum untuk realisasi investasi dan eksploitasi di Papua. 

Jika kita simak Perubahan undang undang nomor 2 tahun 2021 yang akan diperlakuan otonomi khusus jilid II akan diperlakukan pada juni mendatang ini tidak menguntungkan rakyat Papua. Orang Papua hanya jadi objek untuk kepentingan kelompok oportunis boneka Jakarta di Papua. 

Istilah Otonomi dalam tinjauan etimologis berasal dari bahasa Latin “autos” yang berarti sendiri dan “nomos” berarti aturan. Jadi secara harafiah berarti aturan sendiri. Dalam terminologi Encyclopedia Of Social Science Otonomi dalam pengertian orisional adalah “The legal self sufficiency of social body and its actual independence.” Dalam terminology ini tersirat dua dimensi, yakni: legal self sufficiency dan actual dependen.

Otonomi khusus harus ada kebebasan dan kewenangan sesuai dengan kebutuhan daerah atau wilayah tersebut. Otonomi daerah merupakan pengalihan wewenang dari pusat ke daerah, sekaligus mengaktifkan daerah yang selama ini telah tumbuh dan hidup sebagai perwujudan kelengkapan pemerintahan negara. 

Namun selama 20 tahun otonomi khusus jilid pertama tidak ada kewenangan dan kebebasan kepada pemerintah daerah untuk mengatur regulasi sesuai dengan kebutuhan daerah.

Sesungguhnya makna otonomi Daerah ditegaskan kembali dalam produk Undang-Undang Pemerintahan Daerah yang baru, yakni ayat 5, pasal 1, UU No 32 Tahun 2004, menyatakan:

 “bahwa Otonomi Daerah adalah hak, wewenang dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.” 

Jika mencermati seluruh perubahan dan penambahan yang ada, setidaknya terdapat dua peran pemerintah pusat yang begitu dominan dan mengesampingkan peran pemerintah daerah yang seharusnya menjadi pihak utama dalam pelaksanaan pemerintahan di daerah otonomi khusus Provinsi Papua.

Pertama, terkait dengan pembentukan badan khusus yang diketuai oleh Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada Pasal 68A UU Otsus 2021, dalam rangka sinkronisasi, harmonisasi, evaluasi, dan koordinasi pelaksanaan Otonomi Khusus dan pembangunan di wilayah Papua, dibentuk suatu badan khusus yang kemudian bertanggung jawab secara langsung kepada Presiden.

Badan khusus ini diketuai oleh Wakil Presiden dan beranggotakan Menteri Dalam Negeri, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional, dan Menteri Keuangan, serta satu orang perwakilan dari setiap provinsi di Provinsi Papua sebagai anggotanya.

Hal inilah yang kemudian menampakkan bahwa pemerintah pusat melakukan over-control penyelenggaraan pemerintahan di daerah Otonomi Khusus Provinsi Papua. Badan Khusus ini akan mengungkung kebebasan dan keleluasaan pemerintah daerah dalam menentukan dan membuat kebijakan di daerah otonomi khususnya.

Sangat potensial, akan ada kewenangan yang saling tumpang tindih antara kewenangan yang dimiliki oleh badan khusus dan kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah, bahkan lebih jauh lagi akan mengurangi dan memangkas kewenangan pemerintah daerah Provinsi Papua.

Sesuai dengan statement dari Ketua Panitia Khusus RUU Otsus Papua Komarudin Watubun pada Juli lalu, pembentukan badan khusus ini merupakan simbol kehadiran Istana di Papua, namun di sisi lain juga merupakan simbol arogansi dan sikap otoriter pemerintah pusat atas pelaksanaan pemerintahan di daerah otonomi khusus Provinsi Papua.

Kedua, terkait dengan usulan pemekaran daerah. Pada Pasal 76 UU Otsus 2021, pada ayat (2) pemerintah pusat kembali menampakkan arogansinya atas usulan pemekaran daerah di daerah otonomi khusus Provinsi Papua.

Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dapat melakukan pemekaran daerah provinsi dan kabupaten/kota menjadi daerah otonom untuk mempercepat pemerataan pembangunan, peningkatan pelayanan publik, dan kesejahteraan masyarakat, serta mengangkat harkat dan martabat orang asli Papua dengan memperhatikan aspek politik, administratif, hukum, kesatuan sosial-budaya, kesiapan sumber daya manusia, infrastruktur dasar, kemampuan ekonomi, perkembangan pada masa yang akan datang, dan/atau aspirasi masyarakat Papua.

Munculnya subjek yang dapat mengusulkan adanya rencana pemekaran daerah pada ayat (2) ini merupakan bentuk lain atas arogansi pemerintah pusat dalam upaya pemekaran di daerah otonomi khusus Provinsi Papua dalam UU Otsus 2021.

Ayat (2) tersebut kemudian dipertegas kembali dengan pengaturan di ayat (3) Pasal 76 yang mengatur bahwa jika Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan usulan atas pemekaran daerah di Papua, maka pemekaran tersebut dilaksanakan dengan tanpa dilakukan melalui tahapan daerah persiapan.

Sesuai dengan Penjelasan Pasal 76 ayat (3) yang dimaksud dengan "tanpa dilakukan melalui tahapan daerah persiapan" termasuk tanpa harus memenuhi persyaratan dasar dan persyaratan administratif.

Jika dibandingkan dengan pengaturan pemekaran daerah dalam Undang-Undang Pemerintahan Daerah, pemekaran daerah secara detail dan rigid harus dilaksanakan dengan pemenuhan syarat-syarat dasar dan administratif sebagaimana diatur mulai dari Pasal 33 hingga Pasal 48 baik berupa pemecahan daerah maupun penggabungan daerah. 

Syarat dasar dan syarat administratif tersebut dimaksudkan untuk memberikan parameter yang jelas kemampuan suatu daerah sebelum dilakukan pemekaran, sekaligus dengan kemampuan dan kesiapan masyarakat pada daerah tersebut.

Apabila syarat dan tahapan pemekaran ditiadakan hanya karena subjek yang mengusulkan pemekaran adalah pemerintah pusat, hal ini tentu akan berimbas pada tataran pelaksanaan pemekaran dan berdampak langsung kepada masyarakat asli papua yang merasakan langsung efek dan dampak dari pelaksanaan pemekaran daerah.

Apakah pemerintah pusat tidak memikirkan nasib masyarakat Papua? Akankah persiapan pemekaran daerah yang seharusnya dijalankan oleh masyarakat Papua dapat dikesampingkan oleh pemerintah pusat? Jawabannya tentu tidak.

Patut diduga adanya pasal ini merupakan langkah konkret persiapan pembentukan daerah baru Provinsi Papua Tengah oleh pemerintah pusat yang kemudian akan menjadi agenda politik dalam rangka eksploitasi alam di Papua dengan dalih percepatan pembangunan.

 Selain mengesampingkan kesiapan dan dampak pada masyarakat Papua, perlu diingat kembali bahwa isu pemekaran daerah ini telah menuai banyak protes dari berbagai kalangan.

Pada tanggal 4 Maret 2022 Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia mengundang 9 Bupati yang berasal dari wilayah Pegunungan tengah Papua. 

Pertemuan yang direncanakan pada Jumat 14 Maret 2022 itu mengagendakan Persiapan Pemekaran Provinsi di Wilayah Papua Pegunungan Tengah. Pembahasan itu atas dasar pasal 76 ayat 3, UU No. 2 Tahun 2021 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Otonomi Khusus bagi provinsi Papua Nomor 21 Tahun 2001.

Sebelumnya, tuntutan pemekaran ini juga disampaikan oleh beberapa elit politik di Papua: 

1). SK Gubernur Papua Barat No. 125/72/3/2020 tentang pemekaran Provinsi Papua Barat daya.

 2). Deklarasi 4 bupati (Merauke, Asmat, Mapi dan Boven Digul).

3). Deklarasi di Timika pada tanggal 4 februari 2021 meliputi Kab. Timika, Pantai, Dogiyai, Deyai, Nabire dan Puncak. 

4). Permintaan ketua Asosiasi Pegunungan tengah Papua, Befa Jigibalom kepada Jokowi di Jakarta. Berbeda dengan sikap rakyat Papua.

Profesor Dr Rocky Gerung menyebut bahwa UU Otsus adalah “Paket Perintah Menyogok Papua”. Dengan demikian dua Pasal yakni UU Perimbangan Keuangan dan Pemekaran Propinsi Papua saat ini sedang dibahas oleh DPR RI di Senayan diketuai oleh Komaruddin Watubun bertujuan “menyogok” lagi dan itu mau dipaksakan pada rakyat Papua adalah semacam Paket UU Sogokan Pemerintah bagi rakyat Papua.

Dari semua kebijakan mulai dari sejarah aneksasi sampai dengan Otonomi khusus dipaksakan ini seakan kami ini bukan manusia namun kami ini binatang. 

Jika kami manusia nilai kemanusiaan kami harus dihormati, hak politik kami tidak dirampas , hak demokrasi kami dibungkam tidak diberikan ruang. Kami bangsa Papua manusia sama seperti bangsa lain di dunia ini, nasib masa depan bangsa kami tidak bisa diatur oleh orang lain. 

Bangsa Papua punya hak untuk mengatur dirinya sendiri bukan diatur oleh Indonesia, semua produk hukum Paket politik pendudukkan bagian dari praktek Nekolonialisme Indonesia wajib dan harus menolak.

Semua kebijakan resmi Jokowi berwatak militer atek oligarki imperalis dipaksakan melalui borjuis lokal di Papua harus dihentikan sebelum tuntutan rakyat Papua tidak terpenuhi. Jangan kita diam malas tau otonomi khusus jilid II dan pemekaran DOB dan investasi di Papua menjadi ancaman serius. 

Jika kita diam menunjukkan sikap acu tak acu atau apatis terhadap ancaman ini maka kita akan minoritas termarginalisasi dan akan punah secara sistematis masif dan terstruktur. 

OTONOMI KHUSUS JILID II DAN DOB SENJATA NUKLIR PEMUSNAH ORANG PAPUA 

Silakan simak strategi jokowi dalam Video berikut: https://fb.watch/bZEroXPE8m/


Oleh SUHUNIAP JUBIR NASIONAL KNPB PUSAT.

Sunday, 6 March 2022