Monday, 10 March 2025
Monday, 24 February 2025
Penolakan program Pemerintah MBG
![]() |
| Dok Photo Aksi Penolakan Makanan Bergizi gratis MBG oleh Pelajar dari jenjang TK s/d SMA/SMK di Kab. Paniai |
Dalam sebuah acara di Kabupaten Paniai, siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga SMK, melakukan aksi penolakan terhadap program pemberian makanan bergizi secara gratis. Aksi ini mengejutkan banyak pihak dan memicu berbagai spekulasi tentang alasan di balik penolakan tersebut.
Dan Siswa meminta kepada pemerintah Daerah dan pusat bahwa berupa Pendidikan gratis artinya" sepenuhnya pendidikan gratiskan Kita memili Uang uang yang pemerintah upayakan makanan itu ganti dengan melengkapi fasilitas Sekolah mustinya mempersiapkan guru yang mutuh dan lain sebagainya itu yang keluang keluang yang dibutuhkan oleh siswa/Sisilia dari berbagai jenjang pendidikan siswa/I tersebut.
Beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa makanan yang disediakan tidak sesuai dengan selera dan kebiasaan mereka. Mereka lebih memilih makanan yang lebih mereka kenal dan nikmati. Di sisi lain, ada juga siswa yang berargumen bahwa program tersebut tidak melibatkan mereka dalam perencanaan dan pemilihan menu, sehingga mereka tidak merasa memiliki keterikatan dengan makanan yang disediakan oleh pemerintah pusat dalam hal ini struktur pemerintahan Presiden (Prabowo Subianto)
Tindakan ini mencerminkan pentingnya lawan sistem yang di jalankan oleh rezimnya sistem pemerintah Prabowo dalam setiap program tidak masuk akal yang dijalankan ini, terutama dalam hal yang berkaitan dengan kesehatan dan nutrisi. Sebenarnya sisiwa/I dari berbagai jenjang pendidikan Di papua membutuhkan pendidikan yang mutuh bukan makanan yang tdk masuk akal. Karena papua ini kaya akan sumber daya alam sehingga orang sisiwa mereka telah, sedang dan akan menjamin makanan yang lokal yang merekan punya hasil berkebun, nelayan dan sesuai dgn nafkah keluarga mereka masing-masing sehingga tidak perlu lagi butuh makanan bergizi gratis (MBG)
Akhirnya, Aksi ini pemerintah daerah dan pemerintah pusat perlu dilakukan untuk mencari jalan tengah dan memastikan bahwa kebutuhan serta keinginan siswa diperhatikan dalam program-program Pendidikan, kesehatan program program yang dibutuhkan depannya.
Thursday, 13 February 2025
Papua Itu Surga, Tapi Berbahaya bagi Pemiliknya
Di sebuah pulau yang terletak di timur
Indonesia, terdapat sebuah daerah yang begitu indah, kaya akan keanekaragaman
hayati, budaya, dan keindahan alam yang mengagumkan bernama Papua. Dari puncak
pegunungan yang menjulang tinggi hingga pasir putih yang membentang di
sepanjang pantai, pulau ini adalah surga bagi para wisatawan yang mencari
petualangan.
Namun, di balik keindahan tersebut,
terdapat kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh penduduk asli Papua (indigenous
people). Mereka, yang dikenal dengan kelestarian budayanya dan kearifan
lokalnya, sering kali terjerat dalam konflik dan eksploitasi. Sumber daya alam
yang melimpah, seperti emas dan mineral lainnya, menjadi magnet bagi para
investor yang datang untuk mengeksploitasi kekayaan tanah Papua, tanpa
memperhatikan nasib masyarakat lokal.
Di Kampung kecil bernama Anoarop,
hiduplah seorang pemuda bernama Daniel. Sejak kecil, Daniel sangat mencintai
tanahnya. Ia sering mendaki gunung, menjelajahi hutan, dan berenang di sungai
yang jernih. Baginya, setiap sudut Papua adalah surga. Namun, kehidupan
sehari-hari keluarganya banyak dipenuhi tantangan. Ia melihat orang-orang yang
seharusnya menikmati hasil bumi mereka justru terpinggirkan dan tersisih oleh
perusahaan-perusahaan yang datang mengklaim tanah mereka dengan janji-janji
palsu.
Suatu ketika, ketika Daniel sedang
berbincang dengan ayahnya, mereka menerima kabar bahwa sebuah perusahaan besar
berencana untuk mengeksplorasi tambang emas di dekat desa mereka. Rasa cemas
menyelimuti hati Daniel. Ia tahu, jika tambang dibuka, keindahan alam di
sekitar mereka akan hancur, dan masyarakat akan kehilangan tempat tinggal serta
sumber penghidupan.
“Papa,
kita tidak bisa membiarkan ini terjadi! Kita harus berjuang untuk tanah kita!”
seru Daniel penuh semangat.
Ayahnya menatap putranya dengan tatapan
penuh harap, namun juga penuh kekhawatiran. “Anakku, perjuangan ini tidaklah
mudah. Banyak orang yang terjebak dalam janji manis perusahaan. Mereka akan
datang dengan kekuatan dan uang. Kita harus hati-hati.”
Namun, hati Daniel tak bisa dibendung.
Dia mengorganisir pemuda-pemuda Kampung untuk berkumpul dan berdiskusi tentang
nasib tanah mereka. Agusta, seorang guru di Kampung itu, ikut bergabung. Dia
memberi mereka spirit dan pengetahuan tentang hak-hak mereka sebagai pemilik
tanah. Daniel merasa semangat juangnya semakin membara.
Hari-hari berlalu, dan Daniel bersama
teman-temannya semakin aktif menyuarakan penolakan terhadap eksploitasi tanah
mereka. Mereka membuat spanduk, mengadakan pertemuan, dan menyusun rencana
untuk berdialog dengan pihak perusahaan. Namun, semakin mereka bersuara,
semakin kuat tekanan yang mereka rasakan. Ancaman demi ancaman datang dari
kelompok yang mengklaim diri sebagai pengawal proyek tersebut. Mereka adalah
TNI/Porli Indonesia.
Suatu malam, ketika Daniel pulang dari
pertemuan, dia melihat bayangan mencurigakan di tepi jalan. Jantungnya berdegup
kencang, dan tanpa berpikir panjang, dia berlari pulang, berteriak memanggil
ayahnya. Keluarga mereka terpaksa bersembunyi, menjauhi ancaman yang mengintai.
Hari demi hari, semakin banyak penduduk
yang takut untuk berbicara. Namun, semangat Daniel tidak padam. Ia tahu, jika
mereka menyerah, surga yang mereka cintai akan hancur. Dengan keberanian yang
tersisa, dia mengajak penduduk untuk berkumpul di kampung itu dan mengadakan
aksi damai, menyuarakan kebencian mereka terhadap eksploitasi.
Daniel berdiri di depan kerumunan,
berseru, “Papua ini adalah rumah kita! Kita tidak bisa membiarkannya diambil
oleh orang-orang yang tidak mengerti arti tanah ini! Kita harus bersatu!”
Aksi tersebut mungkin tidak mengubah
keadaan secara langsung, tetapi suara Daniel dan penduduk Kampung mulai
terdengar hingga ke telinga orang-orang luar. Beberapa media mulai meliput, dan
perhatian publik pun mulai tertuju pada apa yang terjadi di Aroanop.
Namun, risiko yang dihadapi Daniel dan
masyarakatnya semakin meningkat. Laporan-laporan mengenai intimidasi terus
datang, tetapi Daniel tetap teguh pada pendiriannya. “Kami akan memperjuangkan
hak kami, meski nyawa menjadi taruhannya,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Kesadaran mulai menyebar. Banyak orang
dari luar berdatangan untuk memberikan dukungan bagi perjuangan mereka.
Perlahan, kekuatan masyarakat bangkit, dan banyak yang mulai memahami betapa
berharganya tanah Papua. Masyarakat internasional mulai memberi tekanan kepada
pemerintah dan perusahaan untuk menghormati hak-hak masyarakat lokal.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun
perjuangan, perusahaan itu Semaking bertambah tumbuh. Masyarakat Aroanop menyerah
atas hak-hak mereka. Daniel menyadari
bahwa surga yang mereka miliki harus dijaga dengan usaha dan kerja keras, meski
itu datang dengan risiko. Dia tahu, Papua adalah surga bukan hanya karena
keindahan alam, tetapi juga karena keberanian masyarakatnya untuk melawan ketidakadilan.
Tetapi, pihak ketiga yang ambil kendalih
mereka adalah pemerintah daerah sampai pusat mereka adalah kaki-tangan dari
pihak kapitalis local dan adikuasa atas orang pribumi/ (indigenous people)
mestinya mereka menyadari bahwa harus hargai dan hormat sebagai hak-hak pribumi
sebagai pewaris negeri mereka.
Dengan setetes air mata bahagia, Daniel
menatap langit Papua yang cerah. “Kami akan terus berjuang, bukan hanya untuk
kami, tetapi untuk generasi yang akan datang,” katanya, penuh harapan. Surga
ini adalah tanggung jawab setiap anak Papua, dan mereka akan terus menjaga
keindahan dan kearifan tanah mereka.
Surabaya, 13 Feb 2025
Monday, 10 February 2025
KEHIDUPAN DALAM PILOSOPI LENGSA ESTETIKA.
![]() |
|
Seorang anak laki-laki Berna Sepanya di Sebuah kampung yang Melodi
Dalam Warna kehidupan |
Di sebuah Kampung kecil yang
terletak di pinggir pegunungan, tinggal seorang pemuda bernama Sepanya Sejak kecil, Sepanya
terpesona oleh suara alam di sekitarnya. Suara gemerisik dedaunan, aliran
sungai, dan nyanyian burung saat pagi hari selalu berhasil menghanyutkan
pikirannya. Ia percaya bahwa alam memiliki melodi yang kaya, dan ia ingin
menggarapnya menjadi sebuah karya musik.
Suatu hari, di tengah kebun yang
dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, Sepanya memutuskan untuk mengumpulkan
berbagai suara alam yang ada. Ia membawa alat musiknya, sebuah gitar tua yang
diwariskan oleh kakeknya, dan berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok.
Langkah pertama membawanya ke tepi
sungai, di mana suara aliran air terdengar jernih. Sepanya mulai memainkan
petikan gitar, menyesuaikan nadanya dengan irama air yang mengalir. Ia
merasakan betapa harmoninya petikan gitarnya menyatu dengan suara alam. Seakan
alam menyanyikan lagu yang sama bersamanya.
Dari tepi sungai, Sepanya
melanjutkan perjalanan menuju hutan. Di sana, suara burung berkicauan menjadi
latar belakang yang menggembirakan. Dengan energik, ia menambahkan beberapa
nada ceria ke dalam permainan gitarnya. Setiap kicauan burung membuatnya
terinspirasi untuk menyusun melodi baru, seolah hewan-hewan kecil itu mengikuti
setiap petiknya.
Di tengah perjalanan, Sepanya
menemukan sebuah padang bunga yang penuh dengan warna-warni cerah. Ia terpesona
melihat kupu-kupu berterbangan, menari di antara bunga-bunga. Sepanya berhenti
sejenak dan teringat, bahwa setiap warna bunga memiliki maknanya sendiri. Ia
pun mulai menggubah nada-nada yang lembut, seakan menciptakan simfoni untuk
menghormati keindahan alam.
Saat matahari mulai terbenam, Sepanya
menuju puncak bukit yang menghadap ke desa. Di sana, ia duduk dan memandang
hamparan langit yang berubah menjadi warna oranye, merah, dan ungu. Suara angin
berbisik lembut di telinganya. Dalam momen itu, Sepanya merasakan kedamaian
yang mendalam. Ia mulai bermain gitar lagi, mengalunkan nada-nada yang tenang,
menciptakan melodi yang bercerita tentang perjalanan hari itu—keindahan yang ia
temui, suara yang ia dengar, dan warna yang ia saksikan.
Ketika malam tiba dan
bintang-bintang mulai bermunculan, Sepanya merasakan bahwa ia telah menciptakan
sesuatu yang spesial. Semua suara dan warna alam yang ia rekam dalam kenangan
kini terjalin dalam sebuah melodi yang unik. Dengan penuh semangat, ia kembali
ke desa dengan harapan untuk membagikan karyanya kepada penduduk desa.
Pada malam perayaan desa, Sepanya
melangkah ke panggung kecil yang disiapkan. Ia melihat wajah-wajah penuh
harapan dari penduduk desa yang ingin mendengar suaranya. Dengan percaya diri,
ia mulai memainkan gitar dan menyanyikan melodi yang telah ia ciptakan,
menggabungkan suara alam dengan perasaan yang ada di dalam hatinya.
Malam itu, ketenangan dan keindahan
alam seolah hadir dalam setiap nada yang Sepanya lantunkan. Semua orang
terdiam, menikmati keajaiban yang timbul dari kolaborasi antara manusia dan
alam. Setiap suara, setiap petikan gitar, dan setiap lirih nyanyian membentuk
sebuah narasi magis tentang harmoni yang selama ini tersembunyi.
Ketika lagu terakhir berakhir,
tepuk tangan bergemuruh, dan Sepanya merasa bahwa ia telah menemukan tujuannya.
Musik tidak hanya sekadar nada, tetapi juga tentang menangkap esensi dari alam
dan mengungkapkannya. Di dalam berbagai warna yang ada, Sepanya menemukan makna
yang lebih dalam—bahwa ada keindahan dalam kebersamaan antara manusia, alam,
dan musik.
Sejak hari itu, Sepanya menjadi
penggubah musik yang dikenal di seluruh Kampung. Ia terus menciptakan lagu-lagu
yang menggambarkan keindahan alam, berharap agar anak-anak muda di desanya pun
bisa merasakan dan menghayati harmoni yang ada di sekitar mereka. Dengan setiap
melodi yang diciptakannya, Sepanya mengajak semua orang untuk terhubung kembali
dengan alam dan menemukan keindahan dalam warna-warna yang ada.
DALAM KEBIMBANGAN ARA KEHIDUPAN.
![]() |
| Seorang Gadis Bernama Sepina Di sebuah Kampung |
Di sebuah Kampung kecil yang penuh dengan kehidupan, hiduplah seorang gadis bernama Sepina. Sejak kecil, Sepina memiliki segudang mimpi yang ingin dicapai. Namun, semakin ia tumbuh dewasa, semakin banyak pilihan yang harus dihadapi, dan semakin jelas baginya bahwa ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.
Setiap pagi, Sepina pergi ke sekolah dengan senyum di wajahnya. Teman-temannya tampak percaya diri, mereka tahu apa yang ingin mereka capai. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, ada yang ingin menjadi seniman, dan ada pula yang merencanakan untuk kuliah di luar negeri. Namun, di dalam hati Sepina, bergejolak sebuah kebingungan.
Suatu hari, di akhir pelajaran seni, guru mereka menunjukkan beberapa karya seni dari berbagai seniman terkenal. "Karya-karya ini lahir dari keinginan dan keberanian untuk mengejar apa yang mereka cintai," ujarnya sembari memegang lukisan berwarna cerah.
Sepina menatap lukisan itu, merasa terpesona. Namun, saat teman-temannya bersemangat berdiskusi tentang bagaimana mereka ingin berkarya, Sepina justru terdiam. Ia merasa kosong, seolah ada sebuah jurang di antara dirinya dan passion yang mereka miliki. Apa yang sebenarnya ia inginkan?
Malam harinya, Sepina duduk di meja belajarnya dengan buku-buku terbuka di depan mata. Ia mencoba membuat daftar tentang apa yang ia sukai. Namun, hanya satu kata yang muncul di benaknya: "tidak tahu." Frustrasi mulai merayap dalam dirinya. Ia merasa terjebak dalam kebingungan yang tak berujung.
Hari itu pun berlalu, dan hari-hari berikutnya juga tak memberikan kejelasan. Sepina mulai menarik diri dari teman-temannya, merasa seperti orang asing di dunia yang seharusnya akrab baginya. Suatu sore, saat berjalan sendirian di taman, ia teringat akan hobi lamanya—menggambar. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil seperangkat alat menggambar dari rumah dan kembali ke taman itu.
Dengan setiap goresan pensil di atas kertas, Sepina merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Sebuah ketenangan menyelimuti jiwanya. Ia menggambar segala hal yang ada di sekitarnya—pepohonan, langit, hingga senyuman anak-anak yang bermain. Dalam kesunyian dan kebebasan itu, ia mulai menyadari bahwa mungkin tidak perlu terburu-buru menemukan jawaban.
Hari demi hari, Sepina menghabiskan waktu di taman menggambar. Ia tidak lagi merasa tertekan untuk menemukan apa yang diinginkannya. Alih-alih, ia belajar menikmati prosesnya. Ia mulai menghadiri kelas seni di sekolah, berkenalan dengan teman-teman baru, dan merasa bahwa hidupnya memiliki warna yang dulu seakan hilang.
Seiring waktu, kebingungannya perlahan sirna. Sepina masih belum sepenuhnya tahu apa cita-citanya, tetapi ia sadar bahwa setiap langkah kecil menuju hal yang ia cinta adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Ia tidak lagi merasa terasing, dan dalam ketidakpastian, ada keindahan yang dapat ditemukan.
Ketika Sepina melangkah maju, ia mengingatkan dirinya
sendiri bahwa hidup adalah tentang eksplorasi. Ia mungkin tidak mengerti apa
yang sebenarnya diinginkannya saat ini, tetapi untuk pertama kalinya, ia
menerima kebimbangan itu. Dan dalam penerimaan itulah, Sepina menemukan kebahagiaan yang sederhana—menjadi
dirinya sendiri, tanpa harus mencari-cari jawaban yang tidak selalu harus ada.
Thursday, 6 February 2025
Refreksi penguna media TikTok, bagi generasi X papua.
Judul: Refreksi penguna
media TikTok, bagi generasi X papua.
Plot ilustrasi.
Di sebuah Kampung kecil di Papua, terletak di samping hutan lebat dan
gunung-gunung hijau, hiduplah seorang remaja bernama Menase . Di usianya yang baru menginjak 17
tahun, Menase adalah salah satu dari
banyak anak muda Papua yang terpesona dengan teknologi, terutama aplikasi
TikTok.
Setiap sore, setelah pulang sekolah, Menase tidak langsung membantu orang tuanya di
ladang. Sebagai gantinya, dia meluangkan waktu berjam-jam di depan layar ponsel
tuanya, menonton video TikTok. Mengambil inspirasi dari berbagai konten, ia
berusaha menciptakan video yang menarik untuk diunggah. Dalam benaknya, TikTok
bukan hanya sekadar hiburan; itu adalah jendela ke dunia yang lebih luas di
luar kehidupannya yang sederhana.
Menase sangat terpesona dengan berbagai tantangan dan tarian yang viral.
Meskipun akses internet di desanya terbatas, ketika jaringan cukup baik, dia
bergegas membagikan video dengan tema budaya Papua, seperti tarian tradisional
atau lagu-lagu daerah. Dia berharap video-videonya dapat mengenalkan keindahan
budaya Papua kepada dunia luar.
Namun, tidak semua orang di Kampung Menase
mendukung kegiatannya. Beberapa orang tua merasa khawatir bahwa TikTok merusak
generasi muda mereka. Mereka berargumen bahwa anak-anak lebih baik fokus
belajar dan melestarikan tradisi daripada terjebak dalam dunia media sosial
yang dianggap mengalihkan perhatian. Terkadang, Menase mendengar bisikan
skeptis ketika dia berjalan di sekitar desa. "Anak muda sekarang lebih
suka menghabiskan waktu di layar daripada belajar dari pengalaman nyata,"
keluh seorang Orang tua di Kampung.
Suatu hari, saat Menase mengunggah video tarian bersama teman-temannya ke
TikTok, video tersebut mulai mendapatkan perhatian. Dalam waktu sekejap, ribuan
orang menyaksikan dan memberikan komentar. Menase merasa bangga dan bangga bisa menunjukkan
budaya Papua. Namun, ketenaran itu datang dengan konsekuensi yang tidak
terduga.
Komentar-komentar mulai bermunculan. Beberapa positif, memuji keindahan
tarian dan budaya Papua. Namun, tidak sedikit juga yang negatif. Beberapa
komentar merendahkan, mempertanyakan mengapa Menase dan teman-temannya lebih
memilih menunjukkan budaya mereka dalam bentuk tarian TikTok daripada
melestarikannya dengan cara yang lebih tradisional. Beberapa menuduh mereka
hanya mencari perhatian, tanpa memahami nilai sejati dari budaya mereka
sendiri.
Dihantui oleh berbagai komentar tersebut, Menase merasakan beban di
hatinya. Dia mulai bertanya-tanya: Apakah dengan berpamer di TikTok, artinya
dia mengabaikan nilai budayanya? Apakah dunia luar akan mengenali Papua dengan
cara yang sederhana seperti itu? Day-to-day, keraguannya semakin membesar.
Satu malam, Menase pergi ke tepi sungai, tempat ia sering merenung saat
bingung. Dengan air yang mengalir tenang dan suara alam sekitarnya, dia mulai
merenungkan kehidupannya. Dia teringat pada momen bersama orang tuanya yang
mengajarinya cara menari dan menyanyikan lagu tradisional. Dia teringat pada
cerita-cerita yang didengar dari kakek dan neneknya tentang bagaimana adat dan
budaya merupakan jati diri mereka sebagai orang Papua.
Malam itu, Menase membuat keputusan.
Dia akan menggunakan platform TikTok bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga
sebagai sarana untuk mendidik dan melestarikan budaya Papua. Dia mulai
merencanakan video yang bercerita tentang cerita rakyat, mengajarkan tarian
tradisional dengan penjelasan mengenai makna di balik setiap gerakan, dan
berbagi kisah tentang kehidupan sehari-hari di desanya.
Ketika video-videonya yang baru mulai diunggah, respon yang dia terima
sangat berbeda. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia memberikan dukungan dan
menghargai upayanya untuk mengenalkan budaya Papua secara mendalam. Tanpa dia
sadari, TikTok telah menjelma menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.
Menase akhirnya menyadari bahwa setiap platform memiliki potensi. Yang
terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya. Media sosial tidak harus
merusak budaya, asalkan kita dapat menggunakannya untuk merayakan dan
melestarikan warisan kita.
Tiga bulan kemudian, Menase berdiri di depan kamera, dengan latar belakang
hutan yang lebat. Dia tersenyum, bersemangat. Ini adalah video terbarunya, di
mana dia akan mengajarkan tarian tradisional kepada penonton, disertai
cerita-cerita yang mendalam tentang kultur Papua. Dengan semangat baru, Menase
mengangkat ponselnya dan mulai merekam, yakin bahwa dia sedang melakukan
sesuatu yang penting, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk
generasi yang akan datang.
Catatan penting dari Plot ilustrasi diatas:
Penulis dengan penuh cermati dari beberapa
dekade yang silam dan secara continues ini sangatlah luar biasa dengan adanya
mudah aksess internet platform Tiktok adalah generasih x zaman sekarang ini
lebih banyak interasi di media Tiktok. Dibanding interaksi dengan luar/ dunia
nyata.
Dengan adanya peningkatan aksesbilitas internet dan praform
media sosial ini generasi x sekarang bukan hanya media yang interasi bersifat upload
video/image, dan text saja tetapi dengan adanya peningkatan penguna media Tiktook
generassi x bisa melaksanakan dengan beberapa tips berikut ini:
1. 1. Pendidikan dan Penyebaran Informasi: Generasi X dapat menggunakan TikTok untuk mengedukasi masyarakat tentang masalah yang relevan, seperti kesehatan, hak asasi manusia, pendidikan, dan pelestarian budaya. Konten edukatif yang menarik dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan di kalangan pengguna.
2.Pelestarian Budaya: Dengan membuat
video tentang tarian tradisional, musik, pakaian, dan adat istiadat Papua,
generasi ini dapat berkontribusi dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya
mereka kepada khalayak yang lebih luas.
3. Peluang Ekonomi: TikTok menyediakan
kesempatan untuk monetisasi konten. Generasi X dapat menghasilkan pendapatan
dari konten mereka melalui sponsor atau iklan, yang dapat membantu kesehatan
ekonomi pribadi atau mendukung proyek komunitas.
4. Ekspresi Diri: TikTok memberikan
ruang bagi generasi untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Ini penting untuk
pengembangan identitas dan rasa percaya diri, memberi mereka saluran untuk
berbagi pengalaman dan pandangan individu.
5. Sarana Aktivisme: Platform ini dapat
dimanfaatkan untuk memperjuangkan isu-isu sosial, lingkungan, dan hak asasi
manusia. Generasi X dapat menggunakan video untuk meningkatkan kesadaran
tentang isu-isu penting yang dihadapi masyarakat Papua.
6. Keterlibatan Komunitas: Dengan
membagikan konten yang relevan terhadap kehidupan sehari-hari di Papua,
generasi X dapat membangun komunitas online yang saling mendukung, berbagi
informasi, dan mengatasi tantangan bersama.
7. Tren dan Inovasi: Membuka peluang
untuk mengikuti dan menciptakan tren baru yang relevan dengan budaya lokal,
memungkinkan generasi ini untuk mengintegrasikan elemen-elemen dari budaya
mereka ke dalam platform modern.
Dengan memanfaatkan TikTok secara
positif, generasi X Papua dapat berkontribusi pada pengembangan diri,
komunitas, dan pelestarian budaya mereka, sambil tetap terhubung dengan dunia
yang lebih luas.
Surabaya, 05 February 2025
Penulis: (Dance Yumai)
(Mahasiswa Papua Jurusan Sastra)
CORETAN ANAK KAMPUNG!
akan pernah terlihat lagi. Jadi, nikmati hidupmu dan jadikan setiap momen menjadi indah.
Jangan merusak apa yang kau miliki sekarang dengan mengejar sesuatu yang tidak mungkin kau miliki.
Sebab, apa yang ada padamu saat ini bisa jadi merupakan salah satu dari banyak hal yang paling kau
impikan.
Jika kamu berdoa, jangan meminta kehidupan yang mudah, tetapi mintalah kepada tuhan untuk
menjadikanmu pribadi yang kuat.
Hidup itu seperti mengendaradi sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, sepeda harus terus berjalan.
Demikian pula hidup ini.
Rayakanlah setiap hari dalam hidupmu karena sesungguhnya hari esok akan datang sangat cepat.
Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup sebab pendidikan yang sesungguhnya adalah kehidupan itu
sendiri.
Tidak ada hal yang lebih lembut dari kekuatan, dan tidak ada hal yang lebih kuat dari kelembutan.
Orang bebal selalu mengira bahwa tuhan ada di sampingnya. Sebaliknya, orang bijak selalu berusaha
mendekatkan diri kepada tuhan.
Senyuman merupakan hal kecil yang dapat membuat hidup ini menjadi lebih mudah.
Hidup melalui jalan tanpa hambatan sangat jarang berujung pada kesuksesan.
Kesenanagan terbesar dalam hidup ini adalah melakukan hal, dimana orang lain menganggap bahwa kita
tidak mampu melakukan hal tersebut.
“Alasan kenapa seseorang tak pernah meraih cita-citanya adalah karena dia tak mendefinisikannya, tak
mempelajarinya, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa cita-citanya itu dapat dicapai” (Dr Denis
Waitley, pakar motivasi dan penulis buku-buku self-help)
“Saya memiliki tiga harta. Jaga dan peliharalah: cinta yang dalam, kesederhanaan, ketidakberanian
memenangkan dunia. Dengan cinta yang dalam, seseorang akan jadi pemberani. Dengan
kesederhanaan, seseorang akan menjadi dermawan. Dengan ketidakberanian memenangkan dunia,
seseorang akan menjadi pemimpin dunia”
“Anda harus melakukan sesuatu yang Anda pikir tak akan bisa Anda lakukan”
“Keyakinan merupakan suatu pengetahuan di dalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti”
Pujangga)
“Orang yang terlalu sibuk sangat jarang bisa mengubah pendapatnya”
filsuf Jerman)
“Rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang Anda miliki, bukan pula berasal dari siapa
diri Anda, atau apa yang Anda kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran Anda
“Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Bisa jadi Anda rasakan dalam semenit, sejam, sehari, atau
setahun. Namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya”
“Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah
dimulai”
Sedikit orang kaya yang memiliki harta. Kebanyakan harta yang memiliki mereka
Hidup manusia penuh dengan bahaya, tetapi justru di situlah letak daya tariknya
Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang.
Realitas selalu lebih konservatif daripada ideologi
Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka
dengan keberhasilan saat mereka menyerah.
Jadilah diri anda sendiri. Siapa lagi yang bisa melakukannya lebih baik ketimbang diri anda sendiri? –
Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita
jatuh.
Kesempatan anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan
anda pada diri sendiri.
Penyasalan kan mungking kamu juga mengalami hal yang sama
imagine of in the past right now and continuous in the future
Salam,
ANAK KAMPUNG





