Wednesday, 19 March 2025
Kekhawatiran Masyarakat Papua Jika RUU TNI Ditetapkan
Monday, 10 March 2025
Cerita Kita Di Ogeiye Piyaiye
Monday, 24 February 2025
Penolakan program Pemerintah MBG
![]() |
| Dok Photo Aksi Penolakan Makanan Bergizi gratis MBG oleh Pelajar dari jenjang TK s/d SMA/SMK di Kab. Paniai |
Dalam sebuah acara di Kabupaten Paniai, siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga SMK, melakukan aksi penolakan terhadap program pemberian makanan bergizi secara gratis. Aksi ini mengejutkan banyak pihak dan memicu berbagai spekulasi tentang alasan di balik penolakan tersebut.
Dan Siswa meminta kepada pemerintah Daerah dan pusat bahwa berupa Pendidikan gratis artinya" sepenuhnya pendidikan gratiskan Kita memili Uang uang yang pemerintah upayakan makanan itu ganti dengan melengkapi fasilitas Sekolah mustinya mempersiapkan guru yang mutuh dan lain sebagainya itu yang keluang keluang yang dibutuhkan oleh siswa/Sisilia dari berbagai jenjang pendidikan siswa/I tersebut.
Beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa makanan yang disediakan tidak sesuai dengan selera dan kebiasaan mereka. Mereka lebih memilih makanan yang lebih mereka kenal dan nikmati. Di sisi lain, ada juga siswa yang berargumen bahwa program tersebut tidak melibatkan mereka dalam perencanaan dan pemilihan menu, sehingga mereka tidak merasa memiliki keterikatan dengan makanan yang disediakan oleh pemerintah pusat dalam hal ini struktur pemerintahan Presiden (Prabowo Subianto)
Tindakan ini mencerminkan pentingnya lawan sistem yang di jalankan oleh rezimnya sistem pemerintah Prabowo dalam setiap program tidak masuk akal yang dijalankan ini, terutama dalam hal yang berkaitan dengan kesehatan dan nutrisi. Sebenarnya sisiwa/I dari berbagai jenjang pendidikan Di papua membutuhkan pendidikan yang mutuh bukan makanan yang tdk masuk akal. Karena papua ini kaya akan sumber daya alam sehingga orang sisiwa mereka telah, sedang dan akan menjamin makanan yang lokal yang merekan punya hasil berkebun, nelayan dan sesuai dgn nafkah keluarga mereka masing-masing sehingga tidak perlu lagi butuh makanan bergizi gratis (MBG)
Akhirnya, Aksi ini pemerintah daerah dan pemerintah pusat perlu dilakukan untuk mencari jalan tengah dan memastikan bahwa kebutuhan serta keinginan siswa diperhatikan dalam program-program Pendidikan, kesehatan program program yang dibutuhkan depannya.
Thursday, 13 February 2025
Papua Itu Surga, Tapi Berbahaya bagi Pemiliknya
Di sebuah pulau yang terletak di timur
Indonesia, terdapat sebuah daerah yang begitu indah, kaya akan keanekaragaman
hayati, budaya, dan keindahan alam yang mengagumkan bernama Papua. Dari puncak
pegunungan yang menjulang tinggi hingga pasir putih yang membentang di
sepanjang pantai, pulau ini adalah surga bagi para wisatawan yang mencari
petualangan.
Namun, di balik keindahan tersebut,
terdapat kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh penduduk asli Papua (indigenous
people). Mereka, yang dikenal dengan kelestarian budayanya dan kearifan
lokalnya, sering kali terjerat dalam konflik dan eksploitasi. Sumber daya alam
yang melimpah, seperti emas dan mineral lainnya, menjadi magnet bagi para
investor yang datang untuk mengeksploitasi kekayaan tanah Papua, tanpa
memperhatikan nasib masyarakat lokal.
Di Kampung kecil bernama Anoarop,
hiduplah seorang pemuda bernama Daniel. Sejak kecil, Daniel sangat mencintai
tanahnya. Ia sering mendaki gunung, menjelajahi hutan, dan berenang di sungai
yang jernih. Baginya, setiap sudut Papua adalah surga. Namun, kehidupan
sehari-hari keluarganya banyak dipenuhi tantangan. Ia melihat orang-orang yang
seharusnya menikmati hasil bumi mereka justru terpinggirkan dan tersisih oleh
perusahaan-perusahaan yang datang mengklaim tanah mereka dengan janji-janji
palsu.
Suatu ketika, ketika Daniel sedang
berbincang dengan ayahnya, mereka menerima kabar bahwa sebuah perusahaan besar
berencana untuk mengeksplorasi tambang emas di dekat desa mereka. Rasa cemas
menyelimuti hati Daniel. Ia tahu, jika tambang dibuka, keindahan alam di
sekitar mereka akan hancur, dan masyarakat akan kehilangan tempat tinggal serta
sumber penghidupan.
“Papa,
kita tidak bisa membiarkan ini terjadi! Kita harus berjuang untuk tanah kita!”
seru Daniel penuh semangat.
Ayahnya menatap putranya dengan tatapan
penuh harap, namun juga penuh kekhawatiran. “Anakku, perjuangan ini tidaklah
mudah. Banyak orang yang terjebak dalam janji manis perusahaan. Mereka akan
datang dengan kekuatan dan uang. Kita harus hati-hati.”
Namun, hati Daniel tak bisa dibendung.
Dia mengorganisir pemuda-pemuda Kampung untuk berkumpul dan berdiskusi tentang
nasib tanah mereka. Agusta, seorang guru di Kampung itu, ikut bergabung. Dia
memberi mereka spirit dan pengetahuan tentang hak-hak mereka sebagai pemilik
tanah. Daniel merasa semangat juangnya semakin membara.
Hari-hari berlalu, dan Daniel bersama
teman-temannya semakin aktif menyuarakan penolakan terhadap eksploitasi tanah
mereka. Mereka membuat spanduk, mengadakan pertemuan, dan menyusun rencana
untuk berdialog dengan pihak perusahaan. Namun, semakin mereka bersuara,
semakin kuat tekanan yang mereka rasakan. Ancaman demi ancaman datang dari
kelompok yang mengklaim diri sebagai pengawal proyek tersebut. Mereka adalah
TNI/Porli Indonesia.
Suatu malam, ketika Daniel pulang dari
pertemuan, dia melihat bayangan mencurigakan di tepi jalan. Jantungnya berdegup
kencang, dan tanpa berpikir panjang, dia berlari pulang, berteriak memanggil
ayahnya. Keluarga mereka terpaksa bersembunyi, menjauhi ancaman yang mengintai.
Hari demi hari, semakin banyak penduduk
yang takut untuk berbicara. Namun, semangat Daniel tidak padam. Ia tahu, jika
mereka menyerah, surga yang mereka cintai akan hancur. Dengan keberanian yang
tersisa, dia mengajak penduduk untuk berkumpul di kampung itu dan mengadakan
aksi damai, menyuarakan kebencian mereka terhadap eksploitasi.
Daniel berdiri di depan kerumunan,
berseru, “Papua ini adalah rumah kita! Kita tidak bisa membiarkannya diambil
oleh orang-orang yang tidak mengerti arti tanah ini! Kita harus bersatu!”
Aksi tersebut mungkin tidak mengubah
keadaan secara langsung, tetapi suara Daniel dan penduduk Kampung mulai
terdengar hingga ke telinga orang-orang luar. Beberapa media mulai meliput, dan
perhatian publik pun mulai tertuju pada apa yang terjadi di Aroanop.
Namun, risiko yang dihadapi Daniel dan
masyarakatnya semakin meningkat. Laporan-laporan mengenai intimidasi terus
datang, tetapi Daniel tetap teguh pada pendiriannya. “Kami akan memperjuangkan
hak kami, meski nyawa menjadi taruhannya,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Kesadaran mulai menyebar. Banyak orang
dari luar berdatangan untuk memberikan dukungan bagi perjuangan mereka.
Perlahan, kekuatan masyarakat bangkit, dan banyak yang mulai memahami betapa
berharganya tanah Papua. Masyarakat internasional mulai memberi tekanan kepada
pemerintah dan perusahaan untuk menghormati hak-hak masyarakat lokal.
Akhirnya, setelah bertahun-tahun
perjuangan, perusahaan itu Semaking bertambah tumbuh. Masyarakat Aroanop menyerah
atas hak-hak mereka. Daniel menyadari
bahwa surga yang mereka miliki harus dijaga dengan usaha dan kerja keras, meski
itu datang dengan risiko. Dia tahu, Papua adalah surga bukan hanya karena
keindahan alam, tetapi juga karena keberanian masyarakatnya untuk melawan ketidakadilan.
Tetapi, pihak ketiga yang ambil kendalih
mereka adalah pemerintah daerah sampai pusat mereka adalah kaki-tangan dari
pihak kapitalis local dan adikuasa atas orang pribumi/ (indigenous people)
mestinya mereka menyadari bahwa harus hargai dan hormat sebagai hak-hak pribumi
sebagai pewaris negeri mereka.
Dengan setetes air mata bahagia, Daniel
menatap langit Papua yang cerah. “Kami akan terus berjuang, bukan hanya untuk
kami, tetapi untuk generasi yang akan datang,” katanya, penuh harapan. Surga
ini adalah tanggung jawab setiap anak Papua, dan mereka akan terus menjaga
keindahan dan kearifan tanah mereka.
Surabaya, 13 Feb 2025
Monday, 10 February 2025
KEHIDUPAN DALAM PILOSOPI LENGSA ESTETIKA.
![]() |
|
Seorang anak laki-laki Berna Sepanya di Sebuah kampung yang Melodi
Dalam Warna kehidupan |
Di sebuah Kampung kecil yang
terletak di pinggir pegunungan, tinggal seorang pemuda bernama Sepanya Sejak kecil, Sepanya
terpesona oleh suara alam di sekitarnya. Suara gemerisik dedaunan, aliran
sungai, dan nyanyian burung saat pagi hari selalu berhasil menghanyutkan
pikirannya. Ia percaya bahwa alam memiliki melodi yang kaya, dan ia ingin
menggarapnya menjadi sebuah karya musik.
Suatu hari, di tengah kebun yang
dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, Sepanya memutuskan untuk mengumpulkan
berbagai suara alam yang ada. Ia membawa alat musiknya, sebuah gitar tua yang
diwariskan oleh kakeknya, dan berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok.
Langkah pertama membawanya ke tepi
sungai, di mana suara aliran air terdengar jernih. Sepanya mulai memainkan
petikan gitar, menyesuaikan nadanya dengan irama air yang mengalir. Ia
merasakan betapa harmoninya petikan gitarnya menyatu dengan suara alam. Seakan
alam menyanyikan lagu yang sama bersamanya.
Dari tepi sungai, Sepanya
melanjutkan perjalanan menuju hutan. Di sana, suara burung berkicauan menjadi
latar belakang yang menggembirakan. Dengan energik, ia menambahkan beberapa
nada ceria ke dalam permainan gitarnya. Setiap kicauan burung membuatnya
terinspirasi untuk menyusun melodi baru, seolah hewan-hewan kecil itu mengikuti
setiap petiknya.
Di tengah perjalanan, Sepanya
menemukan sebuah padang bunga yang penuh dengan warna-warni cerah. Ia terpesona
melihat kupu-kupu berterbangan, menari di antara bunga-bunga. Sepanya berhenti
sejenak dan teringat, bahwa setiap warna bunga memiliki maknanya sendiri. Ia
pun mulai menggubah nada-nada yang lembut, seakan menciptakan simfoni untuk
menghormati keindahan alam.
Saat matahari mulai terbenam, Sepanya
menuju puncak bukit yang menghadap ke desa. Di sana, ia duduk dan memandang
hamparan langit yang berubah menjadi warna oranye, merah, dan ungu. Suara angin
berbisik lembut di telinganya. Dalam momen itu, Sepanya merasakan kedamaian
yang mendalam. Ia mulai bermain gitar lagi, mengalunkan nada-nada yang tenang,
menciptakan melodi yang bercerita tentang perjalanan hari itu—keindahan yang ia
temui, suara yang ia dengar, dan warna yang ia saksikan.
Ketika malam tiba dan
bintang-bintang mulai bermunculan, Sepanya merasakan bahwa ia telah menciptakan
sesuatu yang spesial. Semua suara dan warna alam yang ia rekam dalam kenangan
kini terjalin dalam sebuah melodi yang unik. Dengan penuh semangat, ia kembali
ke desa dengan harapan untuk membagikan karyanya kepada penduduk desa.
Pada malam perayaan desa, Sepanya
melangkah ke panggung kecil yang disiapkan. Ia melihat wajah-wajah penuh
harapan dari penduduk desa yang ingin mendengar suaranya. Dengan percaya diri,
ia mulai memainkan gitar dan menyanyikan melodi yang telah ia ciptakan,
menggabungkan suara alam dengan perasaan yang ada di dalam hatinya.
Malam itu, ketenangan dan keindahan
alam seolah hadir dalam setiap nada yang Sepanya lantunkan. Semua orang
terdiam, menikmati keajaiban yang timbul dari kolaborasi antara manusia dan
alam. Setiap suara, setiap petikan gitar, dan setiap lirih nyanyian membentuk
sebuah narasi magis tentang harmoni yang selama ini tersembunyi.
Ketika lagu terakhir berakhir,
tepuk tangan bergemuruh, dan Sepanya merasa bahwa ia telah menemukan tujuannya.
Musik tidak hanya sekadar nada, tetapi juga tentang menangkap esensi dari alam
dan mengungkapkannya. Di dalam berbagai warna yang ada, Sepanya menemukan makna
yang lebih dalam—bahwa ada keindahan dalam kebersamaan antara manusia, alam,
dan musik.
Sejak hari itu, Sepanya menjadi
penggubah musik yang dikenal di seluruh Kampung. Ia terus menciptakan lagu-lagu
yang menggambarkan keindahan alam, berharap agar anak-anak muda di desanya pun
bisa merasakan dan menghayati harmoni yang ada di sekitar mereka. Dengan setiap
melodi yang diciptakannya, Sepanya mengajak semua orang untuk terhubung kembali
dengan alam dan menemukan keindahan dalam warna-warna yang ada.
DALAM KEBIMBANGAN ARA KEHIDUPAN.
![]() |
| Seorang Gadis Bernama Sepina Di sebuah Kampung |
Di sebuah Kampung kecil yang penuh dengan kehidupan, hiduplah seorang gadis bernama Sepina. Sejak kecil, Sepina memiliki segudang mimpi yang ingin dicapai. Namun, semakin ia tumbuh dewasa, semakin banyak pilihan yang harus dihadapi, dan semakin jelas baginya bahwa ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.
Setiap pagi, Sepina pergi ke sekolah dengan senyum di wajahnya. Teman-temannya tampak percaya diri, mereka tahu apa yang ingin mereka capai. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, ada yang ingin menjadi seniman, dan ada pula yang merencanakan untuk kuliah di luar negeri. Namun, di dalam hati Sepina, bergejolak sebuah kebingungan.
Suatu hari, di akhir pelajaran seni, guru mereka menunjukkan beberapa karya seni dari berbagai seniman terkenal. "Karya-karya ini lahir dari keinginan dan keberanian untuk mengejar apa yang mereka cintai," ujarnya sembari memegang lukisan berwarna cerah.
Sepina menatap lukisan itu, merasa terpesona. Namun, saat teman-temannya bersemangat berdiskusi tentang bagaimana mereka ingin berkarya, Sepina justru terdiam. Ia merasa kosong, seolah ada sebuah jurang di antara dirinya dan passion yang mereka miliki. Apa yang sebenarnya ia inginkan?
Malam harinya, Sepina duduk di meja belajarnya dengan buku-buku terbuka di depan mata. Ia mencoba membuat daftar tentang apa yang ia sukai. Namun, hanya satu kata yang muncul di benaknya: "tidak tahu." Frustrasi mulai merayap dalam dirinya. Ia merasa terjebak dalam kebingungan yang tak berujung.
Hari itu pun berlalu, dan hari-hari berikutnya juga tak memberikan kejelasan. Sepina mulai menarik diri dari teman-temannya, merasa seperti orang asing di dunia yang seharusnya akrab baginya. Suatu sore, saat berjalan sendirian di taman, ia teringat akan hobi lamanya—menggambar. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil seperangkat alat menggambar dari rumah dan kembali ke taman itu.
Dengan setiap goresan pensil di atas kertas, Sepina merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Sebuah ketenangan menyelimuti jiwanya. Ia menggambar segala hal yang ada di sekitarnya—pepohonan, langit, hingga senyuman anak-anak yang bermain. Dalam kesunyian dan kebebasan itu, ia mulai menyadari bahwa mungkin tidak perlu terburu-buru menemukan jawaban.
Hari demi hari, Sepina menghabiskan waktu di taman menggambar. Ia tidak lagi merasa tertekan untuk menemukan apa yang diinginkannya. Alih-alih, ia belajar menikmati prosesnya. Ia mulai menghadiri kelas seni di sekolah, berkenalan dengan teman-teman baru, dan merasa bahwa hidupnya memiliki warna yang dulu seakan hilang.
Seiring waktu, kebingungannya perlahan sirna. Sepina masih belum sepenuhnya tahu apa cita-citanya, tetapi ia sadar bahwa setiap langkah kecil menuju hal yang ia cinta adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Ia tidak lagi merasa terasing, dan dalam ketidakpastian, ada keindahan yang dapat ditemukan.
Ketika Sepina melangkah maju, ia mengingatkan dirinya
sendiri bahwa hidup adalah tentang eksplorasi. Ia mungkin tidak mengerti apa
yang sebenarnya diinginkannya saat ini, tetapi untuk pertama kalinya, ia
menerima kebimbangan itu. Dan dalam penerimaan itulah, Sepina menemukan kebahagiaan yang sederhana—menjadi
dirinya sendiri, tanpa harus mencari-cari jawaban yang tidak selalu harus ada.



