Wednesday, 18 June 2025

Ekstraktivisme di Tanah West Papua

. Latar Belakang Adanya Ekstraktivisme

Ekstraktivisme di West Papua berakar dari kebutuhan ekonomi dan politik yang mendalam, baik di tingkat nasional maupun internasional. Dengan kekayaan alam yang melimpah seperti mineral, gas, dan hutan tropis, West Papua menarik perhatian banyak perusahaan dan pemerintah yang ingin mengeksploitasi sumber daya tersebut. Sejak Indonesia mengambil alih kontrol atas wilayah ini pada tahun 1963, eksplorasi dan produksi sumber daya alam semakin meningkat, sering kali mengabaikan hak-hak masyarakat lokal. Konteks politik dan sejarah kolonial juga berperan dalam pembentukan struktur kekuasaan yang mendominasi masyarakat adat dan lingkungan sekitar.

2. Apa Itu Ekstraktivisme?

Ekstraktivisme adalah model ekonomi yang berfokus pada pengambilan dan eksploitasi sumber daya alam, seperti mineral, energi, dan hasil hutan, untuk keperluan industri dan konsumsi. Pendekatan ini sering kali melibatkan penambangan dan eksploitasi yang intensif, yang dapat menimbulkan dampak lingkungan yang signifikan dan merugikan masyarakat lokal. Ekstraktivisme berorientasi pada profit dengan sering mengabaikan aspek keberlanjutan dan kesejahteraan sosial.

 

3. Mengapa Ada Ekstraktivisme Ketidakadilan di Tanah West Papua?

Di West Papua, ketidakadilan ekstraktivisme muncul karena adanya ketimpangan kekuasaan antara pemerintah pusat dan masyarakat lokal. Masyarakat adat sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan; hak atas tanah mereka diabaikan atau dilanggar, dan mereka tidak mendapatkan manfaat dari eksploitasi sumber daya yang terjadi di wilayah mereka. Selain itu, kurangnya transparansi dan akuntabilitas dalam kebijakan ekstraktif menambah tingkat ketidakadilan ini, serta adanya kekerasan dan intimidasi terhadap masyarakat yang menolak proyek-proyek ekstraktif.


 4. Apa Hubungannya Ekstraktivisme dengan Tanah West Papua?

Hubungan antara ekstraktivisme dan Tanah West Papua sangat erat, karena wilayah ini kaya akan sumber daya alam. Eksplorasi dan eksploitasi sumber daya, seperti tambang Freeport, telah menjadi sorotan utama di kawasan ini. Namun, ketertarikan terhadap sumber daya ini sering kali berujung pada pelanggaran hak asasi manusia, kerusakan lingkungan, dan konflik sosial. Dengan demikian, ekstraktivisme telah menjadi faktor utama dalam menentukan dinamika sosial dan ekonomi di West Papua.


 5. Apa Dampak Ekstraktivisme bagi Masyarakat Adat di Papua?

Dampak ekstraktivisme terhadap masyarakat adat di Papua sangat signifikan. Beberapa dampak tersebut meliputi:

Penghilangan Akses Sumber Daya

 Masyarakat lokal kehilangan akses ke tanah dan sumber daya yang selama ini mereka kelola secara berkelanjutan.

Kerusakan Lingkungan:

 Kegiatan ekstraktif merusak ekosistem lokal, yang berdampak pada ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat adat.

Pelanggaran Hak Asasi Manusia: 

Masyarakat sering kali mengalami intimidasi, kekerasan, dan pelanggaran hak asasi manusia ketika berusaha mempertahankan tanah dan kehidupan mereka.

Perubahan Sosial dan Budaya: 

Ekstraktivisme dapat menggeser struktur sosial dan budaya masyarakat adat, yang berpotensi mengikis identitas mereka.


 6. Apakah Tanah West Papua Masih Ada Ketika Ekstraktivisme Terus Ada?

Situasi ini sangat mempertanyakan masa depan Tanah West Papua. Jika ekstraktivisme terus berlanjut tanpa adanya perhatian yang memadai terhadap keberlanjutan lingkungan dan hak-hak masyarakat, maka tidak hanya ekosistem yang dapat mengalami kerusakan permanen, tetapi juga keberadaan budaya dan masyarakat adat itu sendiri. Untuk menjaga keberlanjutan Tanah West Papua, penting untuk mencari keseimbangan antara pengelolaan sumber daya yang bertanggung jawab dan penghormatan terhadap hak-hak masyarakat lokal. Jika tidak, risiko hilangnya identitas, lingkungan, dan keberlanjutan wilayah tersebut akan semakin besar. 

Kesimpulan

Ekstraktivisme di West Papua menimbulkan tantangan besar bagi masyarakat adat dan lingkungan. Memahami dinamika ini sangat penting untuk merumuskan solusi yang adil dan berkelanjutan yang dapat melindungi hak-hak masyarakat serta menjaga keutuhan lingkungan di Tanah West Papua.

Apa yang dapat meningkatkan daya ingat?


Tidak dipungkiri di era sekarang yang serba canggih dan instan, Blue film sekarang bisa diakses kapan saja hanya dengan sentuhan jarimu saja, tapi tidak dipungkiri Film seperti itu mengandung dopamin yang sangat tinggi bikin ketagihan, susah kalau mau keluar dari zonanya.

  • Coba bermeditasi

Berikanlah waktu luangmu minimal 10 menit saja sehari untuk bermeditasi, lakukan ini saat sebelum tidur ataupun saat bangun, orang yang bermeditasi bisa meningkatkan aliran darah ke otak, yang secara tidak langsung memperkuat daya ingat.

  • Jangan membuat Otak multitasking

Apabila anda ingin daya ingat anda meningkat jangan bermultitasking, karena hal tersebut membuat anda daya ingatnya menjadi terbagi-bagi, jadi hal penting yang ingin kamu ketahui jadi kurang memahaminya karena terlalu multitasking, justru dengan multitasking terkadang akan menjadi overthinking dan menurunkan daya ingat.

  • Membaca Buku

Luangkan waktu untuk membaca buku 30 menit saja sehari karena dengan membaca anda akan mendapatkan pengetahuan yang baru, apabila menjalankan habit ini terus menerus anda akan merasakan anda akan ingat sedikit demi sedikit poin-poin/kandungan dalam buku tersebut.

Wednesday, 19 March 2025

KEKUATAN SEJARAH DAN BAHASA MEMBENTUK IDENTITAS SUATU KAUM, SUKU, BANGSA DAN NEGARA


Kutipan Karl Marx ini mengandung pesan mendalam tentang kekuatan sejarah dan bahasa dalam membentuk identitas, kesadaran, dan kebebasan suatu kelompok atau bangsa. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan fondasi yang menanamkan nilai, kebanggaan, dan kesadaran akan hak serta perjuangan. Bahasa tidak hanya alat komunikasi tetapi media pemersatu yang bersifat mengikat dan mempersatukan. 

Ketika suatu kelompok dipisahkan dari sejarah dan bahasa mereka—melalui manipulasi, penghapusan, atau pengaburan fakta—mereka kehilangan arah, kehilangan identitas, dan akhirnya mudah dikendalikan oleh kekuatan lain.

Orang atau kelompok yang tidak mengetahui sejarahnya akan sulit memahami hak-haknya, tidak sadar akan kekuatan kolektifnya, dan rentan menerima narasi palsu yang dibentuk oleh pihak berkuasa. Pengendalian ini bisa berbentuk dominasi politik, ekonomi, maupun budaya. Sejarah yang utuh memberi daya juang, sedangkan sejarah yang dipalsukan menciptakan kepatuhan dan ketidakberdayaan.

Pesan dari kutipan ini adalah pentingnya mengenali, mempelajari, dan menjaga sejarah dan bahasa, baik secara individu maupun kolektif. Sejarah dan bahasa bukan hanya alat untuk memahami masa lalu, tapi juga senjata untuk melawan penindasan di masa kini dan membentuk masa depan yang lebih adil. Mereka yang memahami sejarah dan bahasanya akan sulit diperdaya, karena mereka tahu siapa mereka dan dari mana mereka berasal.

Mari belajar dan menjaga sejarah dan bahasa kita, agar terus lestari dari generasi ke generasi 🙏🙏


Kekhawatiran Masyarakat Papua Jika RUU TNI Ditetapkan

Masyarakat Papua memiliki kekhawatiran besar jika RUU TNI benar-benar disahkan. Salah satu hal yang paling dikhawatirkan adalah semakin luasnya dominasi militer dalam kehidupan sipil. Saat ini saja, TNI sudah terlibat dalam berbagai sektor seperti pembangunan, perkebunan, pertambangan, pendidikan, kesehatan dan makan gratis pun TNI yang jakankan di papua . Dengan adanya RUU ini, mereka akan lebih leluasa menduduki jabatan sipil, yang dikhawatirkan akan mempersempit ruang demokrasi dan menghilangkan peran masyarakat adat dalam menentukan arah pembangunan di tanah mereka sendiri.

Selain itu, masyarakat Papua khawatir bahwa RUU ini akan semakin mempercepat pengambilalihan tanah adat untuk proyek strategis nasional. Selama ini, banyak kasus di mana masyarakat adat kehilangan tanah leluhur mereka akibat eksploitasi sumber daya alam yang didukung oleh aparat keamanan. Jika TNI diberikan kewenangan lebih besar untuk ikut serta dalam kebijakan sipil, maka kemungkinan besar proyek-proyek yang merugikan masyarakat adat akan semakin mudah dijalankan tanpa mempertimbangkan hak-hak mereka.

Kehadiran TNI dalam sektor pendidikan dan kesehatan juga menjadi kekhawatiran lain. Seharusnya, pendidikan dan layanan kesehatan dikelola oleh tenaga profesional sipil yang memahami kebutuhan masyarakat setempat, bukan oleh institusi militer. Jika militer memiliki kendali lebih besar dalam sektor ini, maka ada risiko kebijakan pendidikan dan kesehatan di Papua semakin tidak berpihak kepada rakyat, dan justru lebih diarahkan untuk kepentingan negara atau pihak tertentu yang memiliki agenda terselubung.

Terakhir, masyarakat Papua takut bahwa dengan disahkannya RUU ini, ruang demokrasi semakin tertutup dan suara mereka semakin sulit didengar. Dengan kekuatan lebih besar, TNI bisa lebih mudah mengendalikan narasi dan menekan kritik terhadap kebijakan yang merugikan rakyat. Mengingat sebelum RUU TNI ditetapkan saja TNI sudah masuk ke berbagai aspek kehidupan di Papua, maka jika undang-undang ini benar-benar disahkan, mereka akan semakin leluasa menguasai ranah sipil tanpa batasan yang jelas. Saat ini, keterlibatan TNI sudah terlihat dalam proyek-proyek strategis nasional, sektor pertambangan, perkebunan, pendidikan, dan kesehatan—sering kali tanpa melibatkan masyarakat adat dalam pengambilan keputusan. Jika RUU ini diberlakukan, kontrol militer terhadap berbagai sektor akan semakin kuat, yang berpotensi memperburuk ketimpangan, mempersempit ruang demokrasi, dan mengancam hak-hak masyarakat Papua atas tanah serta kehidupan mereka. Oleh karena itu, mereka melihat bahwa menolak RUU TNI adalah satu-satunya cara untuk melindungi masa depan Papua dari dominasi militer yang semakin luas dan eksploitasi yang lebih besar.

Maka dari itu, menolak RUU TNI adalah satu-satunya cara untuk mencegah dominasi militer yang semakin luas di Papua. Jika undang-undang ini disahkan, TNI akan semakin leluasa menguasai berbagai sektor tanpa batasan yang jelas, memperburuk ketimpangan, serta mengancam hak-hak masyarakat adat atas tanah dan kehidupan mereka. Oleh karena itu, masyarakat Papua harus bersuara, melawan, dan menolak RUU TNI demi menjaga hak, keadilan, dan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

By. M. Y

#TolakRUUTNI
#PapuaBukanMiliter
#LawanDominasiMiliter
#JagaHakMasyarakatAdat
#DemokrasiUntukPapua
#StopEksploitasiPapua
#PapuaButuhKeadilan

Monday, 10 March 2025

Cerita Kita Di Ogeiye Piyaiye

 
Di pengunungan tengah Papua, terdapat sebuah desa kecil bernama Ogeiye Piyaiye. Kampung ini terletak di kaki gunung yang hijau dan subur, dengan sungai yang jernih dan berkelok-kelok.

Aku lahir dan dibesarkan di Kampung ini. Ayahku adalah seorang pemburu yang terkenal di desa kami. Ia memiliki pengetahuan yang luas tentang hutan dan binatang-binatang yang hidup di dalamnya.

Suatu hari, ayahku memutuskan untuk mengajakku berburu ke hutan. Aku sangat bersemangat karena ini adalah pengalaman pertamaku berburu bersama ayahku.

Kami berangkat pagi-pagi, membawa anak panah dan peralatan berburu. Ayahku mengajarkanku cara memilih jalur yang tepat, cara mendengarkan suara binatang, dan cara menembak dengan tepat.

Setelah beberapa jam berjalan, kami tiba di sebuah tempat yang terbuka. Ayahku menunjukkan kepadaku seekor kasuari yang sedang makan buah di pohon.

Aku sangat terkesan dengan keindahan burung itu. Ayahku meminta aku untuk menembak, tapi aku ragu-ragu. Aku tidak ingin membunuh burung yang indah itu.

Ayahku memahami perasaanku. Ia mengatakan bahwa berburu bukan hanya tentang membunuh binatang, tapi juga tentang menghormati dan menghargai alam.

Kami memutuskan untuk tidak menembak kasuari itu. Sebaliknya, kami memilih untuk mengamati dan menghargai keindahannya.

Saat itu, aku menyadari bahwa Ogeiye Piyaiye bukan hanya Kampung kami, tapi juga rumah bagi banyak binatang dan tumbuhan yang indah. Aku berjanji untuk selalu menghormati dan menghargai alam.

Sejak itu, aku menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kelestarian alam. Aku juga menjadi lebih menghargai kebudayaan dan tradisi desa kami.

Ogeiye Piyaiye, anak itu negeri kami. Kami harus menjaganya dengan baik untuk generasi mendatang.

Monday, 24 February 2025

Penolakan program Pemerintah MBG


Dok Photo Aksi Penolakan Makanan Bergizi gratis MBG oleh Pelajar dari jenjang TK s/d SMA/SMK di Kab. Paniai


Dalam sebuah acara di Kabupaten Paniai, siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga SMK, melakukan aksi penolakan terhadap program pemberian makanan bergizi secara gratis. Aksi ini mengejutkan banyak pihak dan memicu berbagai spekulasi tentang alasan di balik penolakan tersebut.


Dan Siswa meminta kepada pemerintah Daerah dan pusat bahwa berupa Pendidikan gratis artinya" sepenuhnya pendidikan gratiskan Kita memili Uang uang yang pemerintah upayakan makanan itu ganti dengan melengkapi fasilitas Sekolah mustinya mempersiapkan guru yang mutuh dan lain sebagainya  itu yang keluang keluang yang dibutuhkan oleh siswa/Sisilia dari berbagai jenjang pendidikan siswa/I tersebut. 



Beberapa siswa mengungkapkan bahwa mereka merasa makanan yang disediakan tidak sesuai dengan selera dan kebiasaan mereka. Mereka lebih memilih makanan yang lebih mereka kenal dan nikmati. Di sisi lain, ada juga siswa yang berargumen bahwa program tersebut tidak melibatkan mereka dalam perencanaan dan pemilihan menu, sehingga mereka tidak merasa memiliki keterikatan dengan makanan yang disediakan oleh pemerintah pusat dalam hal ini struktur pemerintahan Presiden (Prabowo Subianto)



Tindakan ini mencerminkan pentingnya lawan sistem yang di jalankan oleh rezimnya sistem pemerintah Prabowo dalam setiap program tidak masuk akal yang dijalankan ini, terutama dalam hal yang berkaitan dengan kesehatan dan nutrisi. Sebenarnya sisiwa/I dari berbagai jenjang pendidikan Di papua membutuhkan pendidikan yang mutuh bukan makanan yang tdk masuk akal. Karena papua ini kaya akan sumber daya alam sehingga orang sisiwa mereka telah,  sedang dan akan menjamin makanan yang lokal yang merekan punya hasil berkebun, nelayan dan sesuai dgn nafkah keluarga mereka masing-masing sehingga tidak perlu lagi butuh makanan bergizi gratis (MBG) 


Akhirnya, Aksi ini pemerintah daerah dan pemerintah pusat perlu dilakukan untuk mencari jalan tengah dan memastikan bahwa kebutuhan serta keinginan siswa diperhatikan dalam program-program Pendidikan, kesehatan program program yang dibutuhkan depannya.

Thursday, 13 February 2025

Papua Itu Surga, Tapi Berbahaya bagi Pemiliknya



Di sebuah pulau yang terletak di timur Indonesia, terdapat sebuah daerah yang begitu indah, kaya akan keanekaragaman hayati, budaya, dan keindahan alam yang mengagumkan bernama Papua. Dari puncak pegunungan yang menjulang tinggi hingga pasir putih yang membentang di sepanjang pantai, pulau ini adalah surga bagi para wisatawan yang mencari petualangan.

Namun, di balik keindahan tersebut, terdapat kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh penduduk asli Papua (indigenous people). Mereka, yang dikenal dengan kelestarian budayanya dan kearifan lokalnya, sering kali terjerat dalam konflik dan eksploitasi. Sumber daya alam yang melimpah, seperti emas dan mineral lainnya, menjadi magnet bagi para investor yang datang untuk mengeksploitasi kekayaan tanah Papua, tanpa memperhatikan nasib masyarakat lokal.

Di Kampung kecil bernama Anoarop, hiduplah seorang pemuda bernama Daniel. Sejak kecil, Daniel sangat mencintai tanahnya. Ia sering mendaki gunung, menjelajahi hutan, dan berenang di sungai yang jernih. Baginya, setiap sudut Papua adalah surga. Namun, kehidupan sehari-hari keluarganya banyak dipenuhi tantangan. Ia melihat orang-orang yang seharusnya menikmati hasil bumi mereka justru terpinggirkan dan tersisih oleh perusahaan-perusahaan yang datang mengklaim tanah mereka dengan janji-janji palsu.

Suatu ketika, ketika Daniel sedang berbincang dengan ayahnya, mereka menerima kabar bahwa sebuah perusahaan besar berencana untuk mengeksplorasi tambang emas di dekat desa mereka. Rasa cemas menyelimuti hati Daniel. Ia tahu, jika tambang dibuka, keindahan alam di sekitar mereka akan hancur, dan masyarakat akan kehilangan tempat tinggal serta sumber penghidupan.

“Papa, kita tidak bisa membiarkan ini terjadi! Kita harus berjuang untuk tanah kita!” seru Daniel penuh semangat.

Ayahnya menatap putranya dengan tatapan penuh harap, namun juga penuh kekhawatiran. “Anakku, perjuangan ini tidaklah mudah. Banyak orang yang terjebak dalam janji manis perusahaan. Mereka akan datang dengan kekuatan dan uang. Kita harus hati-hati.”

Namun, hati Daniel tak bisa dibendung. Dia mengorganisir pemuda-pemuda Kampung untuk berkumpul dan berdiskusi tentang nasib tanah mereka. Agusta, seorang guru di Kampung itu, ikut bergabung. Dia memberi mereka spirit dan pengetahuan tentang hak-hak mereka sebagai pemilik tanah. Daniel merasa semangat juangnya semakin membara.

Hari-hari berlalu, dan Daniel bersama teman-temannya semakin aktif menyuarakan penolakan terhadap eksploitasi tanah mereka. Mereka membuat spanduk, mengadakan pertemuan, dan menyusun rencana untuk berdialog dengan pihak perusahaan. Namun, semakin mereka bersuara, semakin kuat tekanan yang mereka rasakan. Ancaman demi ancaman datang dari kelompok yang mengklaim diri sebagai pengawal proyek tersebut. Mereka adalah TNI/Porli Indonesia.

Suatu malam, ketika Daniel pulang dari pertemuan, dia melihat bayangan mencurigakan di tepi jalan. Jantungnya berdegup kencang, dan tanpa berpikir panjang, dia berlari pulang, berteriak memanggil ayahnya. Keluarga mereka terpaksa bersembunyi, menjauhi ancaman yang mengintai.

Hari demi hari, semakin banyak penduduk yang takut untuk berbicara. Namun, semangat Daniel tidak padam. Ia tahu, jika mereka menyerah, surga yang mereka cintai akan hancur. Dengan keberanian yang tersisa, dia mengajak penduduk untuk berkumpul di kampung itu dan mengadakan aksi damai, menyuarakan kebencian mereka terhadap eksploitasi.

Daniel berdiri di depan kerumunan, berseru, “Papua ini adalah rumah kita! Kita tidak bisa membiarkannya diambil oleh orang-orang yang tidak mengerti arti tanah ini! Kita harus bersatu!”

Aksi tersebut mungkin tidak mengubah keadaan secara langsung, tetapi suara Daniel dan penduduk Kampung mulai terdengar hingga ke telinga orang-orang luar. Beberapa media mulai meliput, dan perhatian publik pun mulai tertuju pada apa yang terjadi di Aroanop.

Namun, risiko yang dihadapi Daniel dan masyarakatnya semakin meningkat. Laporan-laporan mengenai intimidasi terus datang, tetapi Daniel tetap teguh pada pendiriannya. “Kami akan memperjuangkan hak kami, meski nyawa menjadi taruhannya,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Kesadaran mulai menyebar. Banyak orang dari luar berdatangan untuk memberikan dukungan bagi perjuangan mereka. Perlahan, kekuatan masyarakat bangkit, dan banyak yang mulai memahami betapa berharganya tanah Papua. Masyarakat internasional mulai memberi tekanan kepada pemerintah dan perusahaan untuk menghormati hak-hak masyarakat lokal.

Akhirnya, setelah bertahun-tahun perjuangan, perusahaan itu Semaking bertambah tumbuh. Masyarakat Aroanop menyerah atas   hak-hak mereka. Daniel menyadari bahwa surga yang mereka miliki harus dijaga dengan usaha dan kerja keras, meski itu datang dengan risiko. Dia tahu, Papua adalah surga bukan hanya karena keindahan alam, tetapi juga karena keberanian masyarakatnya untuk melawan ketidakadilan.

Tetapi, pihak ketiga yang ambil kendalih mereka adalah pemerintah daerah sampai pusat mereka adalah kaki-tangan dari pihak kapitalis local dan adikuasa atas orang pribumi/ (indigenous people) mestinya mereka menyadari bahwa harus hargai dan hormat sebagai hak-hak pribumi sebagai pewaris negeri mereka.

Dengan setetes air mata bahagia, Daniel menatap langit Papua yang cerah. “Kami akan terus berjuang, bukan hanya untuk kami, tetapi untuk generasi yang akan datang,” katanya, penuh harapan. Surga ini adalah tanggung jawab setiap anak Papua, dan mereka akan terus menjaga keindahan dan kearifan tanah mereka.

Surabaya, 13 Feb 2025

 

 

Monday, 10 February 2025

KEHIDUPAN DALAM PILOSOPI LENGSA ESTETIKA.

Seorang anak laki-laki Berna Sepanya di Sebuah kampung yang Melodi Dalam Warna kehidupan 

Di sebuah Kampung kecil yang terletak di pinggir pegunungan, tinggal seorang pemuda bernama Sepanya Sejak kecil, Sepanya terpesona oleh suara alam di sekitarnya. Suara gemerisik dedaunan, aliran sungai, dan nyanyian burung saat pagi hari selalu berhasil menghanyutkan pikirannya. Ia percaya bahwa alam memiliki melodi yang kaya, dan ia ingin menggarapnya menjadi sebuah karya musik.

Suatu hari, di tengah kebun yang dikelilingi oleh pohon-pohon rindang, Sepanya memutuskan untuk mengumpulkan berbagai suara alam yang ada. Ia membawa alat musiknya, sebuah gitar tua yang diwariskan oleh kakeknya, dan berjalan menyusuri jalan setapak yang berkelok.

Langkah pertama membawanya ke tepi sungai, di mana suara aliran air terdengar jernih. Sepanya mulai memainkan petikan gitar, menyesuaikan nadanya dengan irama air yang mengalir. Ia merasakan betapa harmoninya petikan gitarnya menyatu dengan suara alam. Seakan alam menyanyikan lagu yang sama bersamanya.

Dari tepi sungai, Sepanya melanjutkan perjalanan menuju hutan. Di sana, suara burung berkicauan menjadi latar belakang yang menggembirakan. Dengan energik, ia menambahkan beberapa nada ceria ke dalam permainan gitarnya. Setiap kicauan burung membuatnya terinspirasi untuk menyusun melodi baru, seolah hewan-hewan kecil itu mengikuti setiap petiknya.

Di tengah perjalanan, Sepanya menemukan sebuah padang bunga yang penuh dengan warna-warni cerah. Ia terpesona melihat kupu-kupu berterbangan, menari di antara bunga-bunga. Sepanya berhenti sejenak dan teringat, bahwa setiap warna bunga memiliki maknanya sendiri. Ia pun mulai menggubah nada-nada yang lembut, seakan menciptakan simfoni untuk menghormati keindahan alam.

Saat matahari mulai terbenam, Sepanya menuju puncak bukit yang menghadap ke desa. Di sana, ia duduk dan memandang hamparan langit yang berubah menjadi warna oranye, merah, dan ungu. Suara angin berbisik lembut di telinganya. Dalam momen itu, Sepanya merasakan kedamaian yang mendalam. Ia mulai bermain gitar lagi, mengalunkan nada-nada yang tenang, menciptakan melodi yang bercerita tentang perjalanan hari itu—keindahan yang ia temui, suara yang ia dengar, dan warna yang ia saksikan.

Ketika malam tiba dan bintang-bintang mulai bermunculan, Sepanya merasakan bahwa ia telah menciptakan sesuatu yang spesial. Semua suara dan warna alam yang ia rekam dalam kenangan kini terjalin dalam sebuah melodi yang unik. Dengan penuh semangat, ia kembali ke desa dengan harapan untuk membagikan karyanya kepada penduduk desa.

Pada malam perayaan desa, Sepanya melangkah ke panggung kecil yang disiapkan. Ia melihat wajah-wajah penuh harapan dari penduduk desa yang ingin mendengar suaranya. Dengan percaya diri, ia mulai memainkan gitar dan menyanyikan melodi yang telah ia ciptakan, menggabungkan suara alam dengan perasaan yang ada di dalam hatinya.

Malam itu, ketenangan dan keindahan alam seolah hadir dalam setiap nada yang Sepanya lantunkan. Semua orang terdiam, menikmati keajaiban yang timbul dari kolaborasi antara manusia dan alam. Setiap suara, setiap petikan gitar, dan setiap lirih nyanyian membentuk sebuah narasi magis tentang harmoni yang selama ini tersembunyi.

Ketika lagu terakhir berakhir, tepuk tangan bergemuruh, dan Sepanya merasa bahwa ia telah menemukan tujuannya. Musik tidak hanya sekadar nada, tetapi juga tentang menangkap esensi dari alam dan mengungkapkannya. Di dalam berbagai warna yang ada, Sepanya menemukan makna yang lebih dalam—bahwa ada keindahan dalam kebersamaan antara manusia, alam, dan musik.

Sejak hari itu, Sepanya menjadi penggubah musik yang dikenal di seluruh Kampung. Ia terus menciptakan lagu-lagu yang menggambarkan keindahan alam, berharap agar anak-anak muda di desanya pun bisa merasakan dan menghayati harmoni yang ada di sekitar mereka. Dengan setiap melodi yang diciptakannya, Sepanya mengajak semua orang untuk terhubung kembali dengan alam dan menemukan keindahan dalam warna-warna yang ada.

DALAM KEBIMBANGAN ARA KEHIDUPAN.

Seorang Gadis Bernama Sepina Di sebuah Kampung

Di sebuah Kampung kecil yang penuh dengan kehidupan, hiduplah seorang gadis bernama  Sepina. Sejak kecil, Sepina memiliki segudang mimpi yang ingin dicapai. Namun, semakin ia tumbuh dewasa, semakin banyak pilihan yang harus dihadapi, dan semakin jelas baginya bahwa ia tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan.

Setiap pagi, Sepina  pergi ke sekolah dengan senyum di wajahnya. Teman-temannya tampak percaya diri, mereka tahu apa yang ingin mereka capai. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, ada yang ingin menjadi seniman, dan ada pula yang merencanakan untuk kuliah di luar negeri. Namun, di dalam hati Sepina, bergejolak sebuah kebingungan.

Suatu hari, di akhir pelajaran seni, guru mereka menunjukkan beberapa karya seni dari berbagai seniman terkenal. "Karya-karya ini lahir dari keinginan dan keberanian untuk mengejar apa yang mereka cintai," ujarnya sembari memegang lukisan berwarna cerah.

        Sepina menatap lukisan itu, merasa terpesona. Namun, saat teman-temannya bersemangat berdiskusi tentang bagaimana mereka ingin berkarya, Sepina justru terdiam. Ia merasa kosong, seolah ada sebuah jurang di antara dirinya dan passion yang mereka miliki. Apa yang sebenarnya ia inginkan? 

    Malam harinya, Sepina  duduk di meja belajarnya dengan buku-buku terbuka di depan mata. Ia mencoba membuat daftar tentang apa yang ia sukai. Namun, hanya satu kata yang muncul di benaknya: "tidak tahu." Frustrasi mulai merayap dalam dirinya. Ia merasa terjebak dalam kebingungan yang tak berujung.

        Hari itu pun berlalu, dan hari-hari berikutnya juga tak memberikan kejelasan. Sepina mulai menarik diri dari teman-temannya, merasa seperti orang asing di dunia yang seharusnya akrab baginya. Suatu sore, saat berjalan sendirian di taman, ia teringat akan hobi lamanya—menggambar. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil seperangkat alat menggambar dari rumah dan kembali ke taman itu.

        Dengan setiap goresan pensil di atas kertas, Sepina  merasakan sesuatu yang telah lama hilang. Sebuah ketenangan menyelimuti jiwanya. Ia menggambar segala hal yang ada di sekitarnya—pepohonan, langit, hingga senyuman anak-anak yang bermain. Dalam kesunyian dan kebebasan itu, ia mulai menyadari bahwa mungkin tidak perlu terburu-buru menemukan jawaban.

    Hari demi hari, Sepina  menghabiskan waktu di taman menggambar. Ia tidak lagi merasa tertekan untuk menemukan apa yang diinginkannya. Alih-alih, ia belajar menikmati prosesnya. Ia mulai menghadiri kelas seni di sekolah, berkenalan dengan teman-teman baru, dan merasa bahwa hidupnya memiliki warna yang dulu seakan hilang.

    Seiring waktu, kebingungannya perlahan sirna. Sepina masih belum sepenuhnya tahu apa cita-citanya, tetapi ia sadar bahwa setiap langkah kecil menuju hal yang ia cinta adalah bagian dari perjalanan itu sendiri. Ia tidak lagi merasa terasing, dan dalam ketidakpastian, ada keindahan yang dapat ditemukan.

        Ketika Sepina  melangkah maju, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa hidup adalah tentang eksplorasi. Ia mungkin tidak mengerti apa yang sebenarnya diinginkannya saat ini, tetapi untuk pertama kalinya, ia menerima kebimbangan itu. Dan dalam penerimaan itulah, Sepina  menemukan kebahagiaan yang sederhana—menjadi dirinya sendiri, tanpa harus mencari-cari jawaban yang tidak selalu harus ada.


Thursday, 6 February 2025

Refreksi penguna media TikTok, bagi generasi X papua.

 

Judul: Refreksi penguna  media TikTok, bagi generasi X papua.



Plot ilustrasi.

Di sebuah Kampung kecil di Papua, terletak di samping hutan lebat dan gunung-gunung hijau, hiduplah seorang remaja bernama  Menase . Di usianya yang baru menginjak 17 tahun, Menase  adalah salah satu dari banyak anak muda Papua yang terpesona dengan teknologi, terutama aplikasi TikTok.

Setiap sore, setelah pulang sekolah, Menase  tidak langsung membantu orang tuanya di ladang. Sebagai gantinya, dia meluangkan waktu berjam-jam di depan layar ponsel tuanya, menonton video TikTok. Mengambil inspirasi dari berbagai konten, ia berusaha menciptakan video yang menarik untuk diunggah. Dalam benaknya, TikTok bukan hanya sekadar hiburan; itu adalah jendela ke dunia yang lebih luas di luar kehidupannya yang sederhana.

Menase sangat terpesona dengan berbagai tantangan dan tarian yang viral. Meskipun akses internet di desanya terbatas, ketika jaringan cukup baik, dia bergegas membagikan video dengan tema budaya Papua, seperti tarian tradisional atau lagu-lagu daerah. Dia berharap video-videonya dapat mengenalkan keindahan budaya Papua kepada dunia luar.

Namun, tidak semua orang di  Kampung Menase mendukung kegiatannya. Beberapa orang tua merasa khawatir bahwa TikTok merusak generasi muda mereka. Mereka berargumen bahwa anak-anak lebih baik fokus belajar dan melestarikan tradisi daripada terjebak dalam dunia media sosial yang dianggap mengalihkan perhatian. Terkadang, Menase mendengar bisikan skeptis ketika dia berjalan di sekitar desa. "Anak muda sekarang lebih suka menghabiskan waktu di  layar  daripada belajar dari pengalaman nyata," keluh seorang Orang tua di Kampung.

Suatu hari, saat Menase mengunggah video tarian bersama teman-temannya ke TikTok, video tersebut mulai mendapatkan perhatian. Dalam waktu sekejap, ribuan orang menyaksikan dan memberikan komentar. Menase  merasa bangga dan bangga bisa menunjukkan budaya Papua. Namun, ketenaran itu datang dengan konsekuensi yang tidak terduga.

Komentar-komentar mulai bermunculan. Beberapa positif, memuji keindahan tarian dan budaya Papua. Namun, tidak sedikit juga yang negatif. Beberapa komentar merendahkan, mempertanyakan mengapa Menase dan teman-temannya lebih memilih menunjukkan budaya mereka dalam bentuk tarian TikTok daripada melestarikannya dengan cara yang lebih tradisional. Beberapa menuduh mereka hanya mencari perhatian, tanpa memahami nilai sejati dari budaya mereka sendiri.

 

Dihantui oleh berbagai komentar tersebut, Menase merasakan beban di hatinya. Dia mulai bertanya-tanya: Apakah dengan berpamer di TikTok, artinya dia mengabaikan nilai budayanya? Apakah dunia luar akan mengenali Papua dengan cara yang sederhana seperti itu? Day-to-day, keraguannya semakin membesar.

Satu malam, Menase pergi ke tepi sungai, tempat ia sering merenung saat bingung. Dengan air yang mengalir tenang dan suara alam sekitarnya, dia mulai merenungkan kehidupannya. Dia teringat pada momen bersama orang tuanya yang mengajarinya cara menari dan menyanyikan lagu tradisional. Dia teringat pada cerita-cerita yang didengar dari kakek dan neneknya tentang bagaimana adat dan budaya merupakan jati diri mereka sebagai orang Papua.

Malam itu, Menase  membuat keputusan. Dia akan menggunakan platform TikTok bukan hanya untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendidik dan melestarikan budaya Papua. Dia mulai merencanakan video yang bercerita tentang cerita rakyat, mengajarkan tarian tradisional dengan penjelasan mengenai makna di balik setiap gerakan, dan berbagi kisah tentang kehidupan sehari-hari di desanya.

Ketika video-videonya yang baru mulai diunggah, respon yang dia terima sangat berbeda. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia memberikan dukungan dan menghargai upayanya untuk mengenalkan budaya Papua secara mendalam. Tanpa dia sadari, TikTok telah menjelma menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas.

Menase akhirnya menyadari bahwa setiap platform memiliki potensi. Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakannya. Media sosial tidak harus merusak budaya, asalkan kita dapat menggunakannya untuk merayakan dan melestarikan warisan kita.

Tiga bulan kemudian, Menase berdiri di depan kamera, dengan latar belakang hutan yang lebat. Dia tersenyum, bersemangat. Ini adalah video terbarunya, di mana dia akan mengajarkan tarian tradisional kepada penonton, disertai cerita-cerita yang mendalam tentang kultur Papua. Dengan semangat baru, Menase mengangkat ponselnya dan mulai merekam, yakin bahwa dia sedang melakukan sesuatu yang penting, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.

 

 

 

 

Catatan penting dari Plot ilustrasi diatas:

Penulis dengan penuh cermati dari beberapa dekade yang silam dan secara continues ini sangatlah luar biasa dengan adanya mudah aksess internet platform Tiktok adalah generasih x zaman sekarang ini lebih banyak interasi di media Tiktok. Dibanding interaksi dengan luar/ dunia nyata.

Dengan adanya peningkatan aksesbilitas internet dan praform media sosial ini generasi x sekarang bukan hanya media yang interasi bersifat upload video/image, dan text saja tetapi dengan adanya peningkatan penguna media Tiktook generassi x bisa melaksanakan dengan beberapa tips berikut ini:

1.       1. Pendidikan dan Penyebaran Informasi: Generasi X dapat menggunakan TikTok untuk mengedukasi masyarakat tentang masalah yang relevan, seperti kesehatan, hak asasi manusia, pendidikan, dan pelestarian budaya. Konten edukatif yang menarik dapat membantu meningkatkan kesadaran dan pengetahuan di kalangan pengguna.


2.Pelestarian Budaya: Dengan membuat video tentang tarian tradisional, musik, pakaian, dan adat istiadat Papua, generasi ini dapat berkontribusi dalam melestarikan dan memperkenalkan budaya mereka kepada khalayak yang lebih luas.


3. Peluang Ekonomi: TikTok menyediakan kesempatan untuk monetisasi konten. Generasi X dapat menghasilkan pendapatan dari konten mereka melalui sponsor atau iklan, yang dapat membantu kesehatan ekonomi pribadi atau mendukung proyek komunitas.


4.       Ekspresi Diri: TikTok memberikan ruang bagi generasi untuk mengekspresikan kreativitas mereka. Ini penting untuk pengembangan identitas dan rasa percaya diri, memberi mereka saluran untuk berbagi pengalaman dan pandangan individu.


5.       Sarana Aktivisme: Platform ini dapat dimanfaatkan untuk memperjuangkan isu-isu sosial, lingkungan, dan hak asasi manusia. Generasi X dapat menggunakan video untuk meningkatkan kesadaran tentang isu-isu penting yang dihadapi masyarakat Papua.


6.       Keterlibatan Komunitas: Dengan membagikan konten yang relevan terhadap kehidupan sehari-hari di Papua, generasi X dapat membangun komunitas online yang saling mendukung, berbagi informasi, dan mengatasi tantangan bersama.


7.       Tren dan Inovasi: Membuka peluang untuk mengikuti dan menciptakan tren baru yang relevan dengan budaya lokal, memungkinkan generasi ini untuk mengintegrasikan elemen-elemen dari budaya mereka ke dalam platform modern.

Dengan memanfaatkan TikTok secara positif, generasi X Papua dapat berkontribusi pada pengembangan diri, komunitas, dan pelestarian budaya mereka, sambil tetap terhubung dengan dunia yang lebih luas.

 

Surabaya, 05 February 2025

Penulis: (Dance Yumai)

(Mahasiswa Papua Jurusan Sastra)

 

 

 

 

 

CORETAN ANAK KAMPUNG!

CORETAN ANAK KAMPUNG!
Setiap saat dalam hidupmu adalah ibarat gambar yang belum pernah terlihat, dan gambar yang tidak

akan pernah terlihat lagi. Jadi, nikmati hidupmu dan jadikan setiap momen menjadi indah.
Jangan merusak apa yang kau miliki sekarang dengan mengejar sesuatu yang tidak mungkin kau miliki.
Sebab, apa yang ada padamu saat ini bisa jadi merupakan salah satu dari banyak hal yang paling kau
impikan.
Jika kamu berdoa, jangan meminta kehidupan yang mudah, tetapi mintalah kepada tuhan untuk
menjadikanmu pribadi yang kuat.
Hidup itu seperti mengendaradi sepeda. Untuk menjaga keseimbangan, sepeda harus terus berjalan.
Demikian pula hidup ini.
Rayakanlah setiap hari dalam hidupmu karena sesungguhnya hari esok akan datang sangat cepat.
Pendidikan bukanlah persiapan untuk hidup sebab pendidikan yang sesungguhnya adalah kehidupan itu
sendiri.
Tidak ada hal yang lebih lembut dari kekuatan, dan tidak ada hal yang lebih kuat dari kelembutan.
Orang bebal selalu mengira bahwa tuhan ada di sampingnya. Sebaliknya, orang bijak selalu berusaha
mendekatkan diri kepada tuhan.
Senyuman merupakan hal kecil yang dapat membuat hidup ini menjadi lebih mudah.
Hidup melalui jalan tanpa hambatan sangat jarang berujung pada kesuksesan.
Kesenanagan terbesar dalam hidup ini adalah melakukan hal, dimana orang lain menganggap bahwa kita
tidak mampu melakukan hal tersebut.

“Alasan kenapa seseorang tak pernah meraih cita-citanya adalah karena dia tak mendefinisikannya, tak
mempelajarinya, dan tak pernah serius berkeyakinan bahwa cita-citanya itu dapat dicapai” (Dr Denis
Waitley, pakar motivasi dan penulis buku-buku self-help)

“Saya memiliki tiga harta. Jaga dan peliharalah: cinta yang dalam, kesederhanaan, ketidakberanian
memenangkan dunia. Dengan cinta yang dalam, seseorang akan jadi pemberani. Dengan
kesederhanaan, seseorang akan menjadi dermawan. Dengan ketidakberanian memenangkan dunia,
seseorang akan menjadi pemimpin dunia”
“Anda harus melakukan sesuatu yang Anda pikir tak akan bisa Anda lakukan”

“Keyakinan merupakan suatu pengetahuan di dalam hati, jauh tak terjangkau oleh bukti”

Pujangga)
“Orang yang terlalu sibuk sangat jarang bisa mengubah pendapatnya”

filsuf Jerman)
“Rasa bahagia dan tak bahagia bukan berasal dari apa yang Anda miliki, bukan pula berasal dari siapa
diri Anda, atau apa yang Anda kerjakan. Bahagia dan tak bahagia berasal dari pikiran Anda

“Sakit dalam perjuangan itu hanya sementara. Bisa jadi Anda rasakan dalam semenit, sejam, sehari, atau
setahun. Namun jika menyerah, rasa sakit itu akan terasa selamanya”

“Suatu pekerjaan yang paling tak kunjung bisa diselesaikan adalah pekerjaan yang tak kunjung pernah
dimulai”

Sedikit orang kaya yang memiliki harta. Kebanyakan harta yang memiliki mereka

Hidup manusia penuh dengan bahaya, tetapi justru di situlah letak daya tariknya

Orang termiskin yang aku ketahui adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa kecuali uang.

Realitas selalu lebih konservatif daripada ideologi

Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka
dengan keberhasilan saat mereka menyerah.

Jadilah diri anda sendiri. Siapa lagi yang bisa melakukannya lebih baik ketimbang diri anda sendiri? –

Kebanggaan kita yang terbesar adalah bukan tidak pernah gagal, tetapi bangkit kembali setiap kali kita
jatuh.

Kesempatan anda untuk sukses di setiap kondisi selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan
anda pada diri sendiri.

Penyasalan kan mungking kamu juga mengalami hal yang sama
imagine of in the past right now and continuous in the future

Salam,
ANAK KAMPUNG

Saturday, 22 July 2023

Tetaplah Berlajar di atas Gelombang menuju Merebut Kemenangan.

Ketika gelombang bergulung dan badai menerjang merobek tiang-tiang keberanian, kami masih harus berlabu maju dengan semangat pemberontakan menuju pulau impian. 

Saat samudera kehidupan memperlihatkan keangkuhanannya, kita berdiri kokoh bagai mercusuar kebenaran yang mengarahkan arah kapal.

Kita yakin, di ufuk sana, pulau kebebasan menanti, dan kita akan sampai di sana, meski harus menembus terjangan ombak penuh tantangan. 

Seiring angin berhembus, kita akan terus berlayar, tak pernah surut, menghadapinya dengan senyuman dan keberanian. Bersama-sama, kita adalah armada pemenang, mengantarkan perjuangan ini hingga akhir.

Kawan-kawan, teruslah berlabuh! Dalam ombak badai besar ini, kita tak akan menyerah. Majulah, berlayarlah, pahlawan-pahlawan sejati! Kita akan tetap berjuang hingga akhir.

Tuesday, 20 June 2023

Apa Untunya Ketika Kita melakukan dosa itu hasrat Yang paling Tinggi, kalau ujung-ujungnya itu Maut.

Mabuk, Apa yg Istimewa dari mabuk?
Ganja, Apa yg Istimewa Dari Ganja?
Seks Bebas, Apa yang Istimewa dari Seks Bebas?
Selingkuh,Apa yang Istimewa dari Selingkuh?

Bukan Kah Semua Yg tercatat di atas itu Mendatangkan Dosa & Penyesalan  bagi kita menuju maut?
Trus Kenapa Masih Kita  Bangga Melakukan Semua Itu?!

Bukan Kah Iblis sedang Menipu Kita?
Trus Kenapa Kita Berpura-pura Tidak Tau seakan Akan Kita Bodoh?

Bukan Kesalahan Iblis,Bukan Kesalahan Tuhan.
Tapi Kesalahan Diri kita sendiri.!!
Iblis Menggoda sekali saja.
Tuhan Memberi Peringatan Ulang Kali.
Dan Diri Kita Sendiri yg Mau Menikmati Dosa Itu. ItuLah Kekurangan Kita.

Makanya Kita Perlu Tuhan. Karena Tuhan Itu 1.
Kita Ini 0. Tetap Andalkan Tuhan Agara kita di Isi Dgn Kekuatan.
Kalau tidak Kita Tetap ( 0 )!!

Monday, 24 April 2023

SEKOLAH RAKYAT, DARI RAKYAT, OLEH RAKYAT & UNTUK RAKYAT.

Kegiatan Belajar-mengajar di tahun 1962 di bawah kontrol misi Gereja Katolik, pada sebuah kampung di pedalaman pegunungan tengah-Papua. 

Kini Sekolah Dasar tersebut di kenal dengan nama SD YPPK St Petrus Musatfak. Foto saat seorang guru dan juga Biarawati Sr. Adolfina sedang mengajar anak-anak didiknya. 

Di samping kiri papan tulis, terlihat Bendera kecil Sang Bintang Fajar, Bendera bangsa Papua Barat. Saat itulah hampir setiap sekolah di perkenalkan atribut bangsa West Papua oleh guru-gurunya. Bukan Merah Putih, pancasila, dan ideologi jawanisasi lainnya. 

Salah satu anak didik, angkatan Pertama adalah Alm. Agus Alue Alua. Mantan Ketua STFT Fajar Timur dan juga Ketua MRP Pertama di Tanah Papua. Termasuk bupati pertama Orang Gunung di Wamena, Bpk. Alm. David Huby, setelah Bpk. JB. Wenas.

Kini hampir semua sekolah di pedalaman Tanah Papua di kendalikan oleh Militer kolonial indonesia [TNI]. Termasuk tenaga pengajar kontrak dari jakarta yang tidak paham dan mengerti budaya kearifan lokal, kemudian paksa mengajar mengunakan budaya jawa, dialek jawa, doktrin jawa dll, yang berdampak pada Pembodohan [gagal paham] terhadap anak didik.

Kegiatan belajar mengajar menjadi tidak jelas. Aset sekolah menjadi milik pribadi, mulai dari rumah guru, asrama dll. Bagaimana nasib masa depan Gereja & Bangsa Papua Barat.

Solusinya kita wajib sadar, bangkit, bersatu dan lawan sistem negara yang menjajah/menindas.

Oleh; Bopini 

Tuesday, 11 April 2023

Tinjauan Penulis perkembagan di pem Kab Paniai selama bebera tahun berjalan ini


Sebelumnya Minta Maaf

 Karena ini berdasarkan kegamatan saya. Saya HARUS sampaikan disini sebagai pemikiran yg jerni, tidak singung siapapun, mungkin anggota group yang pendapat dan pemikiran yang berbeda silakan karena ini kami sebagai INTELEKTUAL Maka, jujur aspirasikan isi hati dan dan sesuai tinjau sejahu ini, perkembagan dan kemajuan khusus agadide dan kab pemda paniai itu sendiri. Kepedulian sebagai intelektual mudah. demi kemjuan dan perkembagai di berbagai sector wilaya agadide dan umumnya kab paniai itu sendiri.

Kennapa ya??? 
1. Orang 01 paniai adalah orang agadide, tapi dalam kandang di agadide itu sendiri tidak ada perubahan ??? seperti pembagunan jalan raja, pembagunan jembatan masih waja lama teruss??? dari distrik ke distrik lain, jembatan utama seperti jembatan aga yang bahas diatas ini. Apakah ??? pemeritah paniai yang sudah telah pasang tian Telkom di kampung-kampung itu orang tuah dong sedang butukan barang”2 itu??

2. Beasisiwa yang pemdah kab paniai katanya di public setiap tahun biasa kirim??? Kenataannya dimana mereka??? Universitas mana? Kalo untuk tingkat SMA pemerintah kab paniai jangan cobah” butuh perhatian dari public. 

3. Yang telah selesai tingkat SMA itu anak-anak mudah paniai saat ini sangat padat dan berantakan dimana-mana karena tdk mampu kulih terpaksa tidak lanjutkan sekolah tinggi/universitas. apaka??? SMA itu butuh biaya dari pemda paniai?? Mereka tidk mampu sekolah?? Sgt disayangkan dan kami putra-putri yang paham perkembagan pemdah paniai sangat memalukan hanya org dunggu yang bisa katakan pemdah hebat-hebat.

4. makasiswa paniai yang sedang berburuh ilmu di jawa kalimaan sumatera Sulawesi saja sudah berantakan dan menginap di kontrakan dari teman”2 deiyai dogiyai intan jaya dan timika. karena tidak ada bantun atau tdk ada fasilitasi dari pemdah paniai itu sendiri.

5. ada banya fatal yang pemerintah kab paniai merealisasikan selama beberapa tahun berjalan ini, kita tdk bisa sampaikan 1per1 disini. Namun banyak hal yg pemeritah buat itu sgt memalukan bagi kami putra/I agadide itu itu sendiri karena 01 paniai adalah kita punya orang bukan orang wilaya 1 atau 2 lain.
kita juga petik 1 poin positif yg Pemda paniai buktikan hanya satu yaitu ANS angkat 100% orang asli papua oap itu saja.
Yg lain itu lapangan NOLL, Jago Di Media Publik.
Jadi, kami sebagai intelektual. BIcara jujur, tdk singun siapapun, demi kepedulian daerah itu sendiri..!

By Mr Bopini

Bagaimana saya bisa membuat otak saya lebih tajam, pintar, dan cepat?

Mungkin beberapa hal ini bisa kamu lakukan :

1.     Membaca, semenjak saya membiasakan membaca buku, entah kenapa saya merasa mendapatkan hal-hal baru dan saya merasa pikiran saya jadi lebih berkembang. Dulu, saya itu sangat tidak suka baca buku. Karena menurut saya baca buku itu membuat kepala saya pusing melihat kata2 nya. Tetapi setelah saya mulai membiasakan membaca buku setiap hari, Efek nya sangat luar biasa !

2.     Tidur yang cukup dan tidak begadang, ini sangat berpengaruh sekali buat saya. Ternyata, cukup tidur itu membuat pikiran saya menjadi lebih fresh dan nengurangi stress juga. Intinya tidur yang cukup itu sangat penting.

3.     Tidak menghabiskan waktu bermain sosmed, membuat otak jadi malas karena kecanduan sosmed. Mulai sekarang, jangan sering rebahan dan hanya bermain sosmed, waktu mu terbuang sia-sia.

4.     Meditasi, rasanya setelah meditasi pikiran jadi lebih fresh dan merasa tenang. Itu bisa membuat otakmu bekerja lebih baik.

5.     Menulis, memperbanyak kosakata, keterampilan tata bahasa dan penggunaan kata dalam kalimat yang tepat. Menulis membantu otak menyimpan informasi dengan lebih efektif dan mengembangkan keterampilan memori yang lebih baik. Tulis apapun yang kamu suka, misalnya tulis apa yang kamu rasakan, menulis diary, dll.

6.     Menggambar atau melukis, meskipun skill menggambarmu kurang, tetapi menurut saya ini cukup berpengaruh, Karena bisa menumbuhkan kreativitas. Kamu bisa memulai dari menggambar hal-hal yang sederhana atau bahkan hanya sekedar corat-coret asal.

7.     Mulailah mempelajari hal-hal baru, Misalnya mempelajari bahasa baru akan mengekspos otakmu pada cara berpikir yang berbeda, dan menunjukan cara yang berbeda untuk mengekspresikan dirimu dengan bahasa baru.

8.     Makan-makanan yang membuat otak jadi lebih cerdas, makanan sangat berpengaruh. Misalnya ikan, sayuran, buah buahan, dll. Kurangi makan makanan cepat saji ya !

9.     Hindari multitasking, fokus dulu pada satu hal yang kamu kerjakan, baru kerjakan yang lain nya. Kalo satu saja tidak fokus bagaimana bisa memaksimalkan hasil yang kamu kerjakan? faktanya, sekuat apapun otak kita, tidak bisa fokus pada dua pekerjaan sekaligus. Jika multitasking, otak dituntut untuk cepat beralih antar pekerjaan yang sebenarnya bisa mengurangi rentang perhatian serta kemampuan untuk belajar.

10.  Jangan malas, Mager atau malas gerak bisa menyebabkan otak lemot. Kamu juga lebih mungkin terkena diabetes, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.

11.  JAUHI PORNOGRAFI, otakmu akan menjadi bodoh karena kecanduan hal-hal yang berbau porno. Selain itu kamu akan jadi kecanduan masturbasi dan susah mengendalikan nafsu mu. Kamu itu manusia dan memiliki otak, beda dengan hewan yang nafsu nya tidak bisa dikontrol.

Semoga membantu !

 sumber: quora indonesia